Showing posts with label lip service. Show all posts
Showing posts with label lip service. Show all posts

Wednesday, 13 August 2014

Surat Terbuka Untuk Peserta dan Penyelenggara Kontes Kecantikan Lingkungan

Pagi ini aku dibuat kesal oleh teman yang mengirimkan pesan BBM. Kurang lebih isinya seperti ini:

"Yeng, ikutan HiLo Green Ambassador gak? Kan kamu inspiratif"

Aku jawab saja tidak, karena memang tidak mendaftar dan tidak tertarik untuk ikutan. Kalimat dia berikut ini yang membuatku kesal.

"Kalau nanti aku ditanya, gak apa apa bilang pernah ikutan diet kantong plastik. Jadi volunteer."

Wowowowowow.... Apa-apaan nih gerutu aku dalam hati. Langsung saja aku bilang tidak boleh. Lagian dia gak pernah jadi relawan program itu. Aneh. Please deh…

---

Sudah lama aku kesal dengan sikap para peserta kontes kecantikan lingkungan yang, maaf, menurutku kadar kecintaan lingkungannya masih sangat kurang. Hal mencolok yang aku lihat mengapa mereka mengikuti kontes seperti itu adalah, ehm, jadi batu loncatan untuk menjadi terkenal. Tidak salah kok jadi terkenal, bagus malah. Namun, mbok ya lihat-lihat dulu situasinya seperti apa.

Aku sempat terpikir ikutan lagi daftar HiLo Green Ambassador hanya untuk bicara hal dibawah ini di depan para peserta audisi. Karena aku memang tidak memprioritaskan untuk mendaftar kontes seperti ini, akhirnya tadi pagi aku memutuskan untuk menuliskannya melalui blog. Semoga sasaran membacanya dan bisa merenungkannya untuk kebaikan lingkungan.
 
---

 Dear peserta dan penyelenggara kontes kecantikan lingkungan,


Apa kabar? Semoga dalam keadaan baik dan tetap menjaga lingkungan. Perkenalkan namaku Rahyang Nusantara. Bukan seseorang yang punya tubuh tegap, atletis, maupun proporsional, apalagi wajah yang rupawan. Aku hanyalah seorang individu biasa yang hanya bisa menjadi relawan suatu organisasi lingkungan. Ya, kita sama-sama punya tujuan untuk melestarikan lingkungan hidup. Semoga kesamaan tujuan ini bisa membuat kita sama-sama mewujudkan lingkungan hidup yang lestari.

Aku ingin sedikit bercerita tentang kondisi lingkungan kita, yang mungkin terlewat untuk disadari oleh teman-teman peserta dan penyelenggara kontes kecantikan lingkungan.

Sadarkah kita semua bahwa kerusakan lingkungan itu nyata berada di depan mata kita? Ruang terbuka hijau di kota kita masing-masing semakin berkurang, pembuangan limbah kimiawi sintetik yang meracuni sungai-sungai kita beserta ekosistem di dalamnya dari pabrik besar merajalela, pembuangan sampah rumah tangga tidak terkendali, pengeboran minyak bumi  marak hingga menggundulnya hutan, dan masih banyak lainnya. Apa yang bisa kita lakukan? Banyak. Banyak sekali. 

Sungai Ciliwung kita yang rusak (Lokasi: Sungai Ciliwung Condet. Dokumentasi pribadi tahun 2013)

Aku punya banyak teman yang berkecimpung di dunia ini. Baik itu di komunitas, organisasi sosial maupun profesional, dan juga pemerintahan. Mereka bertugas baik sekali untuk menjaga lingkungan, meski sesekali berbuat kesalahan juga. Tapi tak apa lah, manusia kan sumber segala macam khilaf kan? Ya, asal tidak terus-terusan dan tidak mendengar saran dan kritik dari orang lain. 

Akhir-akhir ini isu kepemudaan lagi hits banget, bener ga sih? Pemuda diangkat harkat dan martabatnya. Terutama bagi mereka yang aktif mengampanyekan sesuatu dan aktif berpartisipasi di setiap seminar, konferensi, pameran, dan ajang kompetisi. Isu lingkungan pun sudah sedari dulu seksi banget untuk dijadikan bahan kampanye. Kalau kita jodohkan isu lingkungan dan pemuda jadi seksi juga engga? Seksi yah, tapi harus hati-hati....

Sementara diangkat harkat dan derajatnya, kita kita nih sebagai pemuda (ehm, aku sih udah 25 tahun, menurut PBB sudah bukan pemuda lagi, haha) harus sadar diri juga. Sudah aku ceritakan ulang 'kan kerusakan lingkungan itu nyata depan mata kita. Banyak sekali program kepemudaan yang mengusung isu ini. Namun, aku hanya ingin membahas satu saja, yaitu kontes kecantikan lingkungan yang sedang kalian lakukan dan ikuti. Kalau boleh aku sebut, ada dua ajang seperti ini yang cukup populer, HiLo Green Ambassador dan Miss Earth Indonesia Apakah kalian salah satu dari mereka? Adudududuh, kenyang mata deh liat kalian yang begitu indah di luar. Da aku mah apa atuh, sukanya aja makan mie bakso dan gak suka olahraga, bagaimana bisa jadi kayak kalian? :P

Siapa yang bisa menolak ini coba? ummm yummy! (Dokumentasi pribadi, 2014)


Hmmmm, hhhufthness, tapi ada yang membuat aku kecewa pada kalian. Perkenankanlah aku untuk curhat sedikit, kalau ternyata kebanyakan curhatnya, ya dibaca lagi kapan-kapan.

Alhamdulillah banget buat kalian yang dianugerahi wajah rupawan dan postur tubuh yang proporsional dan punya kesempatan untuk diangkat harkat dan derajatnya sebagai pemuda harapan bangsa, khususnya jadi role model di isu lingkungan. Aku selalu percaya bahwa kami butuh role model untuk menjadi panutan. Anak-anak muda pun butuh contoh yang baik dari kalangan mereka yang sudah sukses terlebih dahulu untuk memberdayakan mereka sendiri. Cukup disayangkan bahwa masih banyak dari kalian yang tidak memanfaatkan ajang bergengsi ini dengan baik. 

Kami di organisasi lingkungan tidak butuh wajah rupawan untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Repot soalnya kalau harus mengurusi sampah yang kotor. Takut kalian nanti gatal-gatal dan harus ke dokter untuk suntik kecantikan. Takut kalian harus luluran seumur hidup kalau kita kampanye sambil panas-panasan. Menurut kami, lingkungan jauh lebih indah jika kita rawat. Merawat tubuh dan wajah perlu, aku pun seperti itu kok, tapi diiringi dengan merawat lingkungan. Sama seriusnya dengan kita merawat tubuh dan wajah.

Kerusakan lingkungan nyata, nyata banget L Sangat disayangkan kalau kalian hanya bisa lip service, eh, maksudnya hanya bisa bicara di mulut doank (sama aja ya?). Aku yakin, kalian bisa lebih dari itu. Kalian orang-orang pintar yang terpilih. Pikiran positifku, kalian terpilih bukan karena diatur oleh penyelenggara, tapi memang karena kalian benar-benar berkualitas. Semoga saya tak salah :P

Untuk apa mondar-mandir di media menyuarakan pengurangan Styrofoam, kalau ternyata saat kontesnya berlangsung pun kalian masih menggunakan itu lalu disembunyikan jika media massa hendak meliput. Buat apa kalian susah-susah kampanye tentang jejak karbon, kalau ternyata sponsor kalian mengimpor bahan baku produknya. Ayo lah, kalian lebih dari itu. Lebih dari sekadar berbicara saja. Walk the talk, and then talk the walk. Bukan “talk” saja, tapi “walk”-nya juga donk, biar selaras, serasi, dan seimbang.

Lebih prihatin lagi, ternyata banyak dari kalian yang setelah masa jabatan habis seakan lupa dengan apa yang pernah kalian kampanyekan. Lebih raheut (perih, dalam bahasa Sunda) lagi, kalian ikut kontes lain yang isunya beda. Da apa atuh kami mah gak punya apa-apa untuk bayar kalian demi ada juru bicara lingkungan biar followers naik L

Apa yang sebenarnya kalian cari, teman-temanku? Kalau ingin menjadi model, aku sarankan masuk agensi model aja deh. Lebih fokus ajah dan tidak mengganggu kampanye kami. Syukur-syukur kalian memang ternyata perilakunya sudah ramah lingkungan, bisa jadi nilai tambah kalian sendiri. Daripada ikutan kontes kecantikan lingkungan, tapi hanya untuk batu loncatan supaya bisa jadi artis. Please, sekali lagi, kerusakan lingkungan nyata ada di depan kita. Kita gak bisa pura-pura tidak tahu kan? Selain itu, bukan hanya kampanye saja. Dibalik itu ada perencanaan yang rumit. Kita tetap merencanakan program, membuat dokumen pedoman, standar operating procedure, rapat dengan berbagai pihak, advokasi kesana kemari, memikirkan apakah bahan yang kita gunakan berpotensi merusak lingkungan atau tidak. Kompleks sekali. Tidak semudah dibicarakan di depan media dan masyarakat. Apa yang kita bicarakan ke luar akan lebih mudah dan jujur jika kita memang sebelumnya melakukan aksi nyata. Buat apa gelar (title) banyak-banyak, tapi aksinya nol?

Komunitas lingkungan kritisnya minta ampun. Sesama kami saja mengkritisi satu sama lain, apalagi sama pihak yang mengusung isu yang sama tapi hanya untuk kepuasan branding semata. Bisa habis. Aku memang belum 100% ramah lingkungan. Masih saja ada limbah domestik yang keluar. Untungnya aku bukan public figure yang bakal dicecar kalau ketahuan posting foto ada botol atau kantong plastik.

Teman-teman, pergunakanlah potensi kalian semua dengan baik. Banyak jalan untuk menjadi terkenal. Lagian terkenal itu hadiah daripada apa yang kita lakukan sungguh-sungguh kan? Bukan dibentuk secara sengaja dan instan. Toh apa yang akan kalian sampaikan? Kosong. Orang-orang hanya akan mengagumi penampilan fisik kalian, bukan cara pandang dan perilaku kalian terhadap lingkungan.

Jujur aku capek sekali. Kerjaanku untuk membuat strategi dalam mengurangi kantong plastik lebih mendesak ketimbang mengurusi kalian yang datang pergi meminta ilmu untuk dijadikan bahan kontes dan feedback-nya kepada kami pun minim sekali. Namun, aku pribadi tidak bisa bersikap seperti itu terus. Aku harus bisa mengajak kalian untuk benar-benar bergerak dan beraksi untuk menyelamatkan lingkungan. Asalkan kalian benar-benar serius, bukan kepentingan branding semata. And please, jangan sesekali menunggangi gerakan kami. Haram hukumnya.

Semoga kalian bisa menerima kritik dan saran dariku.

Salam,
Rahyang Nusantara


---

Semata-mata aku curhat seperti ini demi lingkungan hidup yang tidak dicampuri kepentingan golongan/pribadi. Kerusakan lingkungan harus kita selesaikan sekarang juga bersama-sama dan serius! Kami di komunitas selalu terbuka untuk kerjasama dalam bentuk apapun, asalkan demi lingkungan hidup yang lestari.

Friday, 9 May 2014

Green issue is not for branding image!

Lip service. Satu hal yang sering saya temui dalam beberapa tahun belakangan. Maksudnya ini bukan memperbaiki bibir Anda, tetapi suatu bentuk aksi yang hanya dibibir saja. Pertama kali saya melihat fenomena ini adalah ketika saya mulai gencar mengikuti konferensi pemuda. Pada saat itu, dalam benak saya bahwa pemuda pemudi yang mengikuti konferensi seperti itu adalah orang-orang hebat. Tidak juga ternyata. Banyak yang memang hebat, tetapi banyak juga yang seperti saya ucapkan pada kalimat pertama. 

Hal ini saya rasakan saat konferensi-konferensi itu berakhir. Kenalan-kenalan saya yang mana mereka cukup aktif dan vokal saat konferensi ternyata banyak yang tidak berkontribusi apa-apa untuk masyarakat. Saya fokus pada isu lingkungan dan konferensi-konferensi yang saya ikuti pun kebanyakan memang membicarakan isu lingkungan. Terlihat sekali mana yang memang sebelumnya berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan dan mana yang memang cuma ikut-ikutan supaya keren. Dengan berbagai macam kerusakan lingkungan yang marak, hal ini akan sangat kentara sekali. Berbicara cukup vokal di berbagai macam konferensi, tapi tidak diikuti dengan melakukan apa yang kita ucapkan itu sama saja bohong. Entah apa yang mereka tuju untuk itu. Pencitraan? Bisa jadi. Atau hanya sekedar ingin berpendapat saja. Mungkin saja. Atau karena paradigma anak muda "kekinian" yang keren. 

Isu lingkungan itu seksi banget buat dijadikan bahan pencitraan. Saya pernah men-tweet hal ini di akun Twitter saya. Ada beberapa respons yang menggelitik karena ternyata mereka (followers) merasakan hal yang sama. Banyak yang mengambil isu lingkungan sebagai "fokus perhatian" berbagai pihak. Baik itu untuk perseorangan, korporasi besar, LSM, ataupun kontes-kontes pemuda maupun kecantikan yang mengusung isu lingkungan sebagai fokus mereka. Entah benar-benar fokus atau hanya lip service. Hanya mereka dan Tuhan yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. 

Dalam lomba debat tingkat pelajar atau mahasiswa mungkin lip service dibutuhkan untuk mengukur pengetahuan mereka. But, hey, ini bukan kontes. Kerusakan lingkungan nyata di depan mata. Bener-bener di depan mata. Coba cek berapa kali kita lihat sampah berserakan di depan mata. Itu baru sampah. Belum pernah lihat hutan yang dibabat dan digali begitu dalam untuk diambil sumber daya alamnya yang tidak bisa diperbaharui kan? Saya pernah melihat di Kalimantan Timur. Dan itu mengerikan. 

Masih belum paham sih kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang, terutama pemuda, untuk menjadi dikenal luas. Menjadi terkenal itu keren, katanya. Menurut saya, kalau lo memang berkontribusi nyata terhadap masyarakat, terlebih lagi lingkungan, "kepopuleran" itu akan menghampiri kok, bahkan terbentuk secara sendirinya. Tidak perlu dibuat-buat dan dipaksakan. Apalagi mengaku-ngaku. Please. 

Saya perhatikan kebanyakan penduduk Indonesia itu bertipe follower. Ada orang yang jadi terkenal karena ikut kontes ini itu, konferensi ini itu, terus jadi kepengen ikutan. Mau tahu engga salah satu rahasia supaya bisa lolos kontes atau konferensi? Beradalah di zona abu-abu. No good and bad.  There are nothing better. Every problem need to be solved. All problems are first priority. Then, lip service. Walau itu essay atau wawancara berlakulah bahwa kalian peduli terhadap banyak hal, bukan hanya satu. Misalnya, saya sebagai pewawancara menanyakan mana yang lebih penting untuk diselesaikan: persoalan sampah kota, banjir tahunan, atau pembabatan hutan. Jawabannya? Semuanya penting. Ya, Memang penting, tapi saat lo beraksi ke masyarakat, lo harus jadi spesialis yang memang bisa dipertanggungjawabkan komitmennya dan memiliki hasil yang berdampak positif. Karena satu isu itu banyak banget turunannya. Melakukan advokasi ke pemerintah, pendekatan kepada pihak swasta, berkegiatan kampanye, publikasi media online, dan melakukan riset bukan hal yang sepele. Itu yang menyebabkan mengapa kita perlu fokus di satu isu. Bukan tidak boleh memiliki fokus di banyak isu, tetapi pilih yang bisa dilakukan saat ini juga dan berkelanjutan tentunya. What footprints do you want to leave in this earth?

Gemes memang melihat orang-orang seperti itu yang terkadang membuat distraksi. Tak ada yang salah. Setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Hidup ini pilihan. Namun, yang pasti kita tahu bersama adalah pilihan mana yang memang tepat dan tentunya bukan lip service belaka. Ingat lagu "Man in the Mirror" yang dinyanyikan oleh mendiang Michael Jackson? Salah satu liriknya menyebutkan begini,

"If you wanna make a world better place
Take a look at yourself
And make a change"

Di akhir lagu pun, Jacko menegaskan dengan seruan, "Make that change!". Benar sekali. Perubahan itu dimulai dari kita. Kontribusi nyata kepada lingkungan sekitar untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik. Tak cukup hanya lip service, tetapi juga aksi nyata yang memang bisa dirasakan banyak orang. Lagi, tak bosan-bosan saya mengutip kalimat pengingat ini dari salah satu inspirator, the real princess, Miss Indonesia Earth 2009, Nadine Zamira Sjarief. Sebuah kalimat sindiran yang juga pengingat siapa kita di dunia ini. Tak peduli jabatan, status sosial, atau apapun, "a title is nothing without action".

Salam hijau,
Plastic Bag Diet Changemaker