Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

Thursday, 15 September 2016

Indonesia Menjawab Tantangan Global: Sebuah Visi Untuk Masa Depan Bebas Polusi Plastik

Untuk disiarkan segera



Jakarta, 15 September 2016 - Sebuah terobosan visi global baru untuk masa depan yang bebas dari polusi plastik dirilis hari ini oleh jaringan 90 LSM. Visi global baru ini memaparkan 10 prinsip dengan tujuan akhir menciptakan 'masa depan yang bebas dari polusi plastik'. Aksi ini merupakan langkah pertama dari gerakan global untuk mengubah secara mendasar persepsi dan penggunaan plastik.

Para ilmuwan memprediksi bahwa tanpa tindakan cepat tanggap dan mendesak akan ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut pada tahun 2050, yang akan mengancam keanekaragaman hayati laut dan mempercepat penyebaran dan sirkulasi racun ke dalam pangan laut yang kita konsumsi. Beberapa studi menunjukkan bahwa pencemaran plastik dari Indonesia tersebar luas ke perairan internasional dan telah memasuki rantai makanan. Plastik dalam ukuran mikro juga ditemukan dalam perut ikan yang dikonsumsi di pasar Indonesia. Hal ini merupakan ancaman besar bagi Indonesia sebagai negara maritim dan tanggung jawab kepada komunitas global.

Meskipun bahaya paparan polusi plastik mengancam kesejahteraan manusia dan planet kita, pemerintah dan industri sejauh ini gagal mewujudkan perubahan sistemik yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Padahal, UU 18/2008 telah memandatkan kebijakan pengurangan sampah secara mendasar. 

Di Indonesia, penerapan kebijakan bea masuk yang tinggi untuk bahan baku plastik akan memberi peluang besar untuk mengurangi penggunaan plastik secara mendasar dan mencegah terciptanya sampah plastik. Namun, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa komitmen penuh penyusun kebijakan terhadap siklus hidup plastik mulai dari ekstraksi minyak, desain, sampai ke tahap akhir produk. 

"Ini pertama kalinya kelompok-kelompok dari seluruh dunia berkumpul bersama-sama untuk merumuskan solusi untuk masalah polusi plastik. Deklarasi Tagaytay adalah awal dari sebuah gerakan yang akan membuat pemerintah, kota-kota dan perusahaan-perusahaan mengambil tindakan segera dan ambisius untuk mengatasi masalah yang berkembang dengan pesat ini," ujar David Sutasurya, salah satu penggagas #BreakFreeFromPlastic yang juga Direktur YPBB.

"Jumlah plastik yang luar biasa besar ini digunakan oleh para pendukung teknologi termal untuk membenarkan teknologi pembakaran atas nama ‘waste to energy’," lanjut Yuyun Ismawati, Co-Coordinator Koalisi Nasional Tolak Bakar Sampah yang juga pemenang Goldman Environmental Prize 2009.

"Kami mendukung salah satu prinsip dari gerakan global ini yaitu: Tidak ada insinerator baru yang dibangun, dan insentif energi terbarukan untuk pembakaran plastik dan sampah harus dihentikan. Hal ini termasuk gasifikasi, pirolisis, tanur semen, dan fasilitas "sampah menjadi energi" lain dengan teknik pembakaran,” tegas Yuyun Ismawati.

Pemerintah Indonesia dan perusahaan multinasional harus bertanggungjawab atas penggunaan plastik dalam pola produksi dan konsumsi serta kerusakan lingkungan yang dihasilkan, yang seringkali sangat berdampak pada kelompok-kelompok rentan dan sensitif di seluruh dunia. Kami menentang segala bentuk double standard yang diterapkan negara lain dan perusahaan multinasional kepada Indonesia maupun negara berkembang lainnya, terkait isu plastik dan teknologi thermal. Tanpa usaha yang kuat dan terintegrasi, serta komitmen dari penyusun kebijakan, sektor bisnis akan terus menggunakan plastik tanpa pandang bulu dan polusi yang terjadi akan lebih intensif.

Koalisi LSM Indonesia untuk plastik dan zero waste berjuang untuk perubahan kebijakan untuk masa depan yang bebas dari polusi plastik.

Lihat pernyataan visi dalam video dan membaca lebih lanjut tentang proyek #BreakFreeFromPlastic dan gabung menjadi bagian gerakan ini di www.breakfreefromplastic.org


Kontak Pers:
Rahyang Nusantara - Perkumpulan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik

M. Adi Septiono - BaliFokus
081313653636 | tio@balifokus.asia

David Sutasurya - YPBB
081320176832 | david@ypbb.or.id

Penandatangan (signatories) Deklarasi Tagaytay #BreakFreeFromPlastic dari Indonesia:
1. BaliFokus
2. Perkumpulan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik
3. YPBB
4. Greeneration Foundation
5. Ecoton

Penandatangan Deklarasi Tagaytay

Friday, 15 April 2016

Let's #EnrichNotExploit With The Body Shop

Bagi saya, sebuah perusahaan bukan saja berkepentingan untuk menjual sebanyak-banyaknya produk/jasa yang ditawarkannya. Namun, lebih dari itu. Investasi mereka bukan pada konsumen saja. Hal ini harus dilihat dari perspektif hulu ke hilir. Bahwa suatu perusahaan perlu memperhatikan banyak hal, bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Yang dalam realitanya, kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan idealisme. Bagi saya, idealisme adalah harga mati yang patut diperjuangkan. Setuju atau tidak, ada pada pilihan Anda, sesuai dengan apa yang Anda yakini benar. 

Untuk kriteria perusahaan global, saya belum lihat perusahaan lain yang seidealisme The Body Shop dalam memperjuangkan banyak hal. Mereka bukan saja berjualan, tetapi ada nilai-nilai yang diperjuangkan. Kalau pembaca memiliki informasi perusahaan lain yang sekeren atau lebih keren dari pada The Body Shop, boleh lho berbagi cerita :)

Saya mengenal brand The Body Shop sejak lama, entah saat itu ada anggota keluarga yang pakai atau melihat di pusat perbelanjaan. Yang jelas saya ingat, harga produknya mahal dibanding produk yang ada di pasaran lainnya yang saya kenal. Perkenalan lebih lanjut dengan The Body Shop terjalin pada tahun 2013, saat saya dan kawan-kawan Greeneration Indonesia dan beberapa lembaga lain menginisiasi Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Produk pertama saya adalah Moringa Body Scrub, yang saya dapatkan dari Mba Rika sebagai goodies dari acara jumpa pers yang diselenggarakan dalam rangka Earth Hour 2013. Sejak saat itu, saya mulai mencari tahu mengenai The Body Shop dan mulai meninggalkan produk-produk perawatan tubuh dan kulit dari Unilever (dan sejenisnya) ke The Body Shop.

Saya mulai tergila-gila dengan produk The Body Shop, selain karena produknya yang menurut saya bagus, hal yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih brand ini untuk kebutuhan sehari-hari adalah nilai-nilai perusahaan yang menurut saya sangat idealis. Perusahaan mana yang berani untuk menyatakan bahwa produk mereka tidak merampas hak-hak hewan, menggunakan bahan-bahan yang jelas asal-usulnya, dan berani untuk menarik kembali kemasan kosong supaya mengurangi timbulan sampah plastik? 

Beberapa orang menilai saya terlalu berlebihan menjadi konsumen The Body Shop. Teman-teman perempuan saya bahkan berkelakar bahwa perawatan kulit wajah saya lebih lengkap dibandingkan mereka. Boleh saya akui bahwa saya senang merawat tubuh dan terlebih lagi kulit wajah saya yang cukup bermasalah dengan minyak yang berlebihan dan jerawat. Meski saya akui, produk yang saya pakai (rangkaian Tea Tree dan lainnya) belum mampu 100% untuk menangani permasalahan saya, saya percaya bahwa perawatan yang alami dengan bahan-bahan dari alam butuh proses yang sedikit lebih lama ketimbang perawatan dengan bahan-bahan sintetik. Asalkan saya rajin merawat pagi dan malam dengan rangkaian yang lengkap, permasalahan kulit wajah saya bisa dikendalikan. 

Meski pengeluaran saya untuk membeli produk ini cukup tinggi, investasi saya bukan hanya pada kulit wajah saya atau tubuh saya saja. Saya pun berinvestasi untuk keberlanjutan dari mitra-mitra Community Fair Trade The Body Shop, investasi untuk pengelolaan sampah plastik sehingga bisa mengurangi timbulan sampah di TPA (tempat pemrosesan akhir), dan juga bisa ikut berdonasi kepada mitra-mitra komunitas The Body Shop Indonesia, salah satunya Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Investasi saya bukan harta benda, tetapi amalan baik. Insya Allah. 

 Sebelumnya, nilai-nilai yang diangkat oleh The Body Shop ada lima buah, yakni:
1. Against Animal Testing
2. Support Community Fair Trade
3. Activate Self Esteem
4. Defend Human Rights
5. Protect the Planet



Tahun ini, tepat peringatan ke-40 The Body Shop berkarya, komitmen baru diluncurkan. Bagi saya, komitmen mereka ini juara banget. Ada tiga hal yang diusung untuk memperkuat komitmen Enrich, Not Exploit ini, yaitu:
1. Enrich Our People
2. Enrich Our Product
3. Enrich Our Planet



Anda harus baca sendiri penjelasan dari komitmen-komitmen tersebut di atas, supaya bisa menilai sendiri bahwa brand ini patut Anda pertimbangkan untuk dipilih. 

1. Enrich Our People


2. Enrich Our Product


3. Enrich Our Planet



Secara khusus, The Body Shop Indonesia membuat acara peluncuran komitmen baru ini minggu lalu. Saya berkesempatan untuk menghadiri peluncuran tersebut. Kata Mba Rika (GM Corporate Communications), saya diundang sebagai loyal member. Hehehe. Jadi malu. Sering-sering yah haha. Acaranya sendiri keren banget! The most green event ever. Saya akan bercerita lewat foto-foto dari acara tersebut. Selamat menikmati...

Dresscode-nya kuning. Seumur-umur ga pernah punya baju warna kuning yang bagus. Kalo engga kaos souvenir gitu, dulu punya kaos bergambar doraemon. Demi peluncuran ini, rela ngeluarin budget tambahan buat baju haha. 

Ini konsep green event yang diterapkan pada peluncuran komitmen terbaru The Body Shop.
Super niat dan ini jadi benchmark :)
Ingredients corner yang memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang digunakan alami.

Jadi, ada tiga pos yang harus dilalui pengunjung untuk mendapatkan penjelasan. 1) Pos Jejak Ekologis (dipandu oleh Adisa). Pengunjung akan didata penggunaan transportasi menuju lokasi launching yang selanjutnya akan dihitung jejak karbon yang dihasilkan. Plus dapet mug dan sabun olive oil. 2) Pos Komitmen (dipandu oleh Mba Dita). Di pos ini dijelaskan  tentang komitmen baru dan kita diajak nulis komitmen juga. Plus dikasih hand cream Absinthe. 3) Pos Bunga Mawar. Jadi, kami yang hadir kemarin itu jadi yang pertama (setelah tentunya tim The Body Shop Indonesia) mencoba rangkaian baru British Rose. Pulangnya bawa body mist British Rose. 
Bersama Dithi (LeafPlus) dan Angela (Indonesia Expat) di British Rose corner. 
Bersama Ines dan Theo dari Yayasan Greeneration di panggung buat konferensi pers hehe. 
Sebelum bubar jalan, foto bareng dengan beberapa tamu undangan dan CEO The Body Shop Indonesia yang baru. 

Setelah menghadiri acara tersebut, saya semakin yakin bahwa memilih The Body Shop untuk produk sehari-hari adalah tepat. Saya tidak mengajak Anda untuk mengikuti pilihan saya, tetapi saya hanya ingin memberikan informasi bahwa selalu ada pilihan di sekitar kita untuk memilih produk yang lebih baik. Jadi, pilihan ada di tangan Anda :)

#ILoveTheBodyShop #LYBMember #LYBFan


Disclaimer:
Tulisan ini bukan bentuk endorsement, melainkan opini konsumen setia terhadap produk yang digunakannya sehari-hari. 

Sunday, 30 August 2015

Walking the Talk is (Not) Easy

Ada dua tulisan yang sangat kontroversi pernah saya publikasikan. Tulisan-tulisan itu sengaja saya tulis bukan untuk menjadi hater, tetapi untuk mengangkat fenomena yang memang terjadi di sekitar saya. Tulisan kontroversi pertama saya adalah "Dosa Ekologis Dalam Perayaan Earth Hour" yang ditulis pada tahun 2012 (sempat menjadi headline). Saat itu saya tergabung dalam kampanye global tersebut sebagai relawan. Tulisan kedua adalah "Surat Terbuka untuk Peserta dan Penyelenggara Kontes Kecantikan Lingkungan" yang ditulis tahun 2014. Surat ini saya buat, karena kesal dan gemes melihat banyak orang berlomba-lomba mendapatkan gelar "duta lingkungan", tetapi kontribusinya minim. 

Dua tulisan di atas merupakan kritikan yang saya tulis kepada pihak luar. Pada kali ini, saya mencoba memberikan kritik terhadap program yang mana organisasi (dan juga saya tentunya) saya terlibat sebagai penyelenggara. Keberanian mengkritik orang lain harus diimbangi dengan keberanian mengkritik diri sendiri. Untuk apa? Supaya bisa lebih baik lagi dong

*****

Sejak tahun 2010, Kota Bandung memilliki komitmen untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Hal itu dibuktikan dengan munculnya Surat Edaran dari Walikota Bandung saat itu terkait pengurangan kantong plastik dan juga kampanye yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung di pusat belanja bersama dengan pelaku usaha. Di tahun yang sama pula, diluncurkan Kampanye Diet Kantong Plastik oleh Greeneration Indonesia dan Circle K. Tak hanya sampai disitu, tahun 2012 Pemerintah Kota Bandung meresmikan Peraturan Daerah (Perda) No.17 tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik". Hal ini merupakan gebrakan luar biasa bahwa Pemerintah Kota Bandung berani membuat regulasi seperti ini. Peraturan seperti ini hanya terjadi di Kota Bandung. Kabupaten/kota lain belum ada yang membuat peraturan serupa. Perda tersebut diluncurkan di tahun yang sama dengan mengundang pelaku usaha dan menandatangani komitmen bersama dalam mengurangi penggunaan kantong plastik. 

Surat Edaran Walikota Bandung Tahun 2010 tentang
Himbauan Untuk Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik

Papan komitmen yang ditandatangani oleh pemerintah, sekolah, dan swasta.
Sejak saat itu, kampanye pengurangan kantong plastik gencar dilakukan di Kota Bandung. Greeneration Indonesia sebagai salah satu organisasi yang gencar melakukan kampanye ini. Kampanye diet kantong plastik, yang dipopulerkan dengan tagar #DietKantongPlastik di media sosial, mulai menyebar luas. Tak hanya di Kota Bandung, kampanye pengurangan kantong plastik mulai menyebar ke Aceh, Jakarta, Tangerang, Solo, Yogyakarta, Denpasar, Makassar, dan daerah-daerah lainnya. Kota Bandung menjadi barometer dalam penerapan peraturan dan kampanye pengurangan penggunaan kantong plastik. 

Dua tahun berjalan, hingga 2014 tidak terlihat tanda-tanda Perda tersebut efektif. Namun, Pemerintah Kota melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH), memiliki program untuk inventarisasi kantong belanja. Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP/dulunya dibawah Greeneration Indonesia hingga 2013, mulai 2014 menjadi organisasi yang independen) membantu dalam pelaksanaan inventarisasi tersebut. Inventarisasi ini merupakan bagian dari tahapan implementasi Perda, tahapan lainnya adalah pencanangan kawasan pengurangan penggunaan kantong plastik dan rencana aksi daerah pengurangan penggunaan kantong plastik. Inventarisasi yang dilakukan tahun 2014 dilakukan di tiga pusat belanja, yaitu Istana Plaza, Cihampelas Walk, dan Trans Studio Mall. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa lebih dari 70% tenant pada masing-masing pusat belanja masih menggunakan kantong plastik sebagai wadah belanja. Beberapa tenant lainnya dalam persentasi yang lebih kecil menggunakan kantong belanja berjenis kertas dan lain sebagainya. Hasil inventarisasi ini perlu dilanjutkan dengan menambahkan data jumlah kantong belanja yang dikeluarkan tenant dalam hitungan hari atau bulan. Hingga saat ini belum ada rencana untuk melanjutkan inventarisasi. 

Provinsi DKI Jakarta mulai terlihat ingin mengikuti jejak Kota Bandung. Tahun 2013, Gubernur DKI Jakarta mengeluakan Surat Seruan terkait Gerakan Diet Kantong Plastik pada Festival Jakarta Great Sale. Meski hanya Carrefour yang merespons surat tersebut, hal ini membuktikan bahwa Jakarta pun tak ingin ketinggalan untuk melakukan upaya pengurangan penggunaan kantong plastik. Meski di tahun berikutnya dikeluarkan Surat Edaran serupa untuk Gerakan Jakarta Diet Kantong Plastik, belum terlihat lagi keseriusan dari pihak pemerintah untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. 

Surat Seruan Gubernur untuk Gerakan Diet Kantong Plastik di Jakarta (2013)
Surat Seruan Gubernur untuk Gerakan Jakarta Diet Kantong Plastik (2014)

Provinsi Bali pun tak mau kalah. Bye Bye Plastic Bags yang digawangi anak-anak remaja ekspatriat melakukan penandatangan komitmen dengan Gubernur Bali pada tahun 2014 lalu untuk menjadikan Bali Bebas Kantong Plastik. Meski belum ada peraturan daerah, Bali memiliki komitmen bahwa mulai tanggal 1 Januari 2016, Bali akan bebas dari kantong plastik. 

MoU Bye Bye Plastic Bags dengan Gubernur
untuk mengurangi penggunaan kantong plastik (hal.1)
MoU Bye Bye Plastic Bags dengan Gubernur 
untuk mengurangi penggunaan kantong plastik (hal.2)
Tiga tahun umur Perda di Bandung, belum cukup terlihat bahwa Perda tersebut efektif mengurangi penggunaan kantong plastik. Saya selalu mengatakan kepada media massa bahwa satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki peraturan dalam mengurangi penggunaan kantong adalah Bandung. Hal tersebut saya lakukan untuk menunjukkan kepada kabupaten/kota lain dan juga Pemerintah Kota Bandung bahwa upaya ini perlu dilakukan dengan serius. Hingga akhirnya Pemerintah Kota Bandung memiliki rencana kampanye besar yang akan dilakukan tahun 2015. 

Obrolan mengenai kampanye ini sudah didiskusikan sejak awal tahun. Hingga beberapa minggu sebelum pelaksanaan kampanye, baru jelas kapan kampanye ini akan dilaksanakan. Meski beberapa kali berganti jadwal, akhirnya pada tanggal 27 Agustus 2015 lalu, Kampanye Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dilaksanakan oleh BPLH Kota Bandung, dengan menunjuk Rase FM sebagai penyelenggara dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik sebagai mitra komunitas. Trans Studio Mall (TSM) ditunjuk sebagai tuan rumah. TSM juga akan dijadikan sebagai percontohan "Kawasan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik". Padahal, menurut laporan hasil inventarisasi tahun 2014, TSM belum layak dijadikan "Kawasan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik".

Pada proses persiapan kampanye ini, ada beberapa pertemuan yang dipimpin oleh BPLH untuk berdiskusi terkait konsep kampanye. Pertemuan dihadiri oleh dinas-dinas terkait, asosiasi ritel (Aprindo), asosiasi factory outlet, perhimpunan hotel (PHRI), dan GIDKP. Sejak awal, Pemerintah Kota Bandung memang merencanakan bentuk kampanye ini adalah seremonial. Bentuk seremonialnya adalah talkshow, penandatanganan komitmen, dan pemberian apresiasi. Ada hal yang menarik pada pertemuan ini. Aprindo menegaskan bahwa bukan waktunya lagi untuk kegiatan yang sifatnya seremonial. Menurut Aprindo, anggota ritel yang tergabung sudah melakukan upaya pengurangan kantong plastik. Lebih lanjut, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana membuat kampanye ini lebih berkelanjutan. Kegiatan "penandatanganan komitmen" sudah dilakukan dua kali. Pertama, saat peluncuran kampanye pengurangan penggunaan kantong plastik tahun 2010 di hypermarket Giant Pasteur dan yang kedua adalah saat peluncuran Perda tahun 2012 di factory outlet The Secret Jalan Riau. Pelaku usaha, dalam hal ini ritel, sudah menunjukkan komitmennya dalam upaya pengurangan penggunaan kantong plastik, seperti menyediakan tas belanja pakai ulang yang bisa dibeli, menyediakan kardus, program cashback untuk konsumen yang membawa tas belanja sendiri, dan yang lebih simpel adalah menanyakan terlebih dahulu kepada konsumen apakah butuh kantong plastik atau tidak. Mereka malah mempertanyakan balik komitmen pemerintah dalam isu ini. 

Inisiatif yang dilakukan pelaku usaha (ritel) untuk mengurangi penggunaan kantong plastik.
(Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP)

Karena program kampanye ini sudah direncanakan dan dianggarkan oleh pemerintah sejak tahun sebelumnya, maka harus dijalankan pada tahun ini. Meski banyak masukan dari pihak luar (dalam hal ini Aprindo), karena ini terkait pertanggungjawaban pemerintah terkait perencanaan program di akhir tahun, maka harus tetap dilaksanakan sesuai perencanaan awal. Kampanye ini dilakukan dengan persiapan yang sangat sangat singkat. Bahkan koordinasi dengan event organizer yang ditunjuk pun terbatas karena mereka juga sibuk mengurusi program dari dinas lainnya. Hingga disadari bahwa tidak ada publikasi untuk kampanye ini, baik melalui siaran pers maupun media sosial. 

Pihak BPLH menginginkan bahwa pengunjung yang hadir mendapatkan paket berisi konsumsi (camilan dan air minum) dan tas belanja. Kami dari GIDKP merekomendasikan alternatif lain untuk menjaga kampanye pengurangan timbulan sampah. Mereka setuju bahwa konsumsi akan disediakan dengan konsep prasmanan dan pengunjung bisa mengambil camilan secukupnya dengan diwadahi piring rotan yang juga disediakan. Air minum pun akan dikondisikan minim sampah plastik, dengan menyediakan air dalam galon dan paper cup. Sehingga dari konsumsi hanya akan menghasilkan sampah bungkus plastik dari beberapa camilan, daun pisang, dan paper cup. Akan beda ceritanya jika konsumsi yang disajikan dalam kotak-kotak kardus kecil yang akan menghasilkan sampah lebih banyak.

Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Acara dilaksanakan di Plasa TSM mulai pukul 1 siang hingga 4 sore. Acara dihadiri oleh Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ibu Ir. Tuti Hendrawati Mintarsih, MPPM. Didampingi oleh Direktur Persampahan KLHK, Bapak Sudirman dan jajaran lainnya. Acara juga dibuka oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. 

Kiri-kanan: Ibu Tuti, Ridwan Kamil, dan Pak Sudirman (Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP)

Anyway, sebelum acara berlangsung sempat ada debat sedikit terkait konsumsi. Disinyalir konsumsi kurang, padahal tim GIDKP sudah mempersiapkan konsumsi untuk 600 orang. Pembelajaran dari acara-acara sebelumnya, konsumsi selalu berlebih (dan hal ini terjadi juga pada kampanye ini). Selain itu, pihak BPLH menganggap bahwa piring rotan berukuran terlalu besar untuk digunakan. Sehingga akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak menggunakan piring rotan dan membeli lagi tambahan konsumsi. Sayangnya, mereka membeli konsumsi dengan menggunakan kantong plastik! Hal yang saya takut-takutkan jika melakukan kampanye besar seperti ini adalah masih ada orang-orang yang belum berjalan bersama. Hal tersebut masih terjadi, bahkan di lembaga yang mengampanyekan dan membuat regulasi untuk mengurangi kantong plastik. Meskipun masih dalam konteks "mengurangi", bukan berarti dibenarkan juga jika masih menggunakan kantong plastik pada kampanye pengurangan kantong plastik. Bukankah seharusnya kita menjadi contoh bagaimana mengurangi kantong plastik kepada publik? 

Air minum dalam kemasan masih menjadi jebakan kampanye lingkungan
Piring rotan yang tidak terpakai. 

Kampanye ini pun kecolongan air minum dalam kemasan. Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dan mendukung kampanye ini. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga ingin ikut berpartisipasi dalam kampanye ini. PDAM memberikan beberapa kardus berisi air minum dalam kemasan gelas plastik. Meski tetap menyediakan air galon, air minum dari PDAM ini tetap disediakan. Akhirnya, sampah gelas plastik pun banyak. 

Meski secara teknis penyelenggaraan acara juga masih cukup kacau, seperti pada prosesi penandatanganan komitmen dan pemberian apresiasi, tetapi yang menjadi highlight dalam kampanye ini adalah kurang tersampaikannya pesan dalam pengurangan kantong plastik yang tercermin dari penyelenggaraan kampanye. Selain urusan konsumsi, ternyata tidak ada tim yang menangani sampah. Konsep zero waste event tidak dilakukan dalam kampanye ini. Meski BPLH menyediakan kantong sampah terpilah, dikarena tidak adanya tim zero waste event, maka pengelolaan sampah sangat tidak terkontrol. Bahkan saya tidak melihat tim dari PD Kebersihan yang mengelola sampah-sampah yang timbul dari awal hingga akhir acara. Padahal mereka menyatakan kesiapannya di setiap pertemuan persiapan. Tidak diketahui alasan mereka tidak muncul. Alhasil, petugas kebersihan TSM yang menmbersihkan. Sampah pun tetap tercampur meski kantong sampah sudah dibedakan dengan warna (hijau untuk sampah organik dan putih untuk anorganik) dan diberi tulisan keterangan. Mendadak pengunjung "buta aksara" dan tidak membuang sampah dengan benar. Padahal sebagian besar pengunjung adalah sekolah yang dinyatakan sebagai yang memiliki wawasan lingkungan dan mendapatkan penghargaan Adiwiyata! Bahkan salah satu dari mereka membeli makan siang dengan menggunakan kemasan styrofoam! Hal ini terlihat oleh tim relawan GIDKP karena lokasi booth yang bersampingan. 

Salah satu sekolah Adiwiyata yang ikut kampanye. (Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP) 

Papan tandatangan komitmen. Lihat sampah enggak? (Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP)

Memang, ternyata kolaborasi lintas sektor itu tidak mudah. Perbedaan pemahaman dalam menilai sesuatu menjadi tantangan yang dihadapi. Meski secara lembaga memiliki kampanye yang sama, belum tentu orang dibaliknya memiliki pemahaman yang sama terhadap kampanye itu. Apalagi isu lingkungan erat kaitannya dengan sikap (attitude) dan perilaku (behaviour). Saya yakin semua orang yang hadir pada kampanye tersebut mengetahui bahwa sampah adalah sesuatu yang harus dikurangi. Apalagi kampanye ini mengenai pengurangan penggunaan kantong plastik, banyak orang tahu bahwa membawa tas sendiri untuk belanja adalah salah satu solusi. Memang, perubahan sikap dan perilaku itu memakan waktu yang lama tergantung individu masing-masing. Hal ini terkait dengan nilai yang dianut masing-masing individu. Namun, menurut saya, setidaknya dalam kegiatan kampanye seperti ini ada hal-hal yang harus dijaga untuk menjaga opini publik. Apalagi dalam hal ini pemerintah yang akan disorot lebih banyak. 

Saya pernah membaca buku "Personal Brand-inc" karya Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu. Ada dua kategori personal branding, yaitu natural personal branding dan created personal branding. Meski buku ini ditujukan untuk pengembangan individu, tetapi menurut saya konsepnya akan sama jika diterapkan pada organisasi. Dalam hal ini, menurut saya, Pemerintah Kota Bandung melakukan created personal (atau governmental/organisational) branding, yaitu dengan ingin menyampaikan kepada publik bahwa Kota Bandung sedang berupaya mengurangi penggunaan kantong plastik dan menjadi kota yang selangkah lebih maju dengan mengeluarkan Perda. Upaya yang dilakukan adalah membuat kampanye sejak 2010 hingga sekarang. Namun, perencanaan yang tidak matang akan membingungkan publik. Publik (juga media massa) akan bertanya-tanya mengenai kampanye pengurangan kantong plastik tetapi masih terdapat sampah plastik yang cukup banyak dan tidak dikelolanya sampah dengan baik. Padahal Pemerintah Kota Bandung memiliki Gerakan Pungut Sampah dan program lainnya terkait pengelolaan sampah. Sehingga muncul pemikiran bahwa sampah yang mereka buang (dengan sembarangan) akan dipungut orang lain dan lingkungan tetap bersih. 

Komitmen Kota Bandung untuk mengurangi penggunaan kantong plastik seperti yang diamanatkan
Perda No.17 tahun 2012perlu dikawal oleh berbagai pihak (Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP)

Program seperti ini memang harus dikoordinasikan dan direncanakan dengan sangat baik oleh berbagai pihak yang bersinggungan langsung dan yang terpenting adalah harus sinergis. Program yang banyak banget pasti ada benang merahnya. Bukan berarti di kampanye yang lain boleh memakai kantong plastik. Peran semua orang yang ada di pihak-pihak yang bersinggungan ini yang harus memastikan semua berjalan sinergis dan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Semoga kampanye ini menjadi pembelajaran dan tidak terjadi lagi pada kampanye selanjutnya. Selain itu, semoga kegiatan seremonial bisa dikurangi dan diganti dengan kegiatan yang lebih berkelanjutan dan bisa diukur dan terlihat juga dirasakan langsung dampaknya. 

Tindak lanjut dari kampanye ini adalah akan dibentuk tim gabungan sesuai amanat Perda untuk memastikan bahwa Perda dan upaya di lapangan berjalan dengan sinergis. Juga memastikan bahwa TSM menjadi percontohan "Kawasan Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik" yang baik. Semoga dengan adanya tim gabungan ini, komitmen Bandung untuk mengurangi penggunaan kantong plastik bisa berjalan dengan baik. Mau Bandung Juara? Yuk, #DietKantongPlastik! 

Terima kasih telah mengapresiasi inisiatif yang sudah dilakukan kelompok masyarakat dalam mengurangi penggunaan kantong plastik. Dalam foto ada juga (kiri-kanan) perwakilan dari Kiehl's Indonesia dan The Body Shop Indonesia yang sudah tidak menggunakan kantong plastik dan menggunakan tas kertas. Kedua brand juga memiliki kampanye pengurangan kantong plastik dan melakukan konsep Extended Producer Responsibility dengan menerima kembali kemasan kosong dari konsumen. (Foto oleh Eko Triraharjo untuk GIDKP)

Friday, 7 August 2015

Menuju Zero Waste Bersama Guru-Guru Asia Tenggara

Hari ini (7 Agustus) bertempat di Bandung, saya berpartisipasi pada pelatihan yang diselenggarakan oleh SEAMEO - QITEP in Science yang bertajuk "Environmental Education on Sustainable Development". Saya mewakili YPBB Bandung (bersama dengan Rikrik) untuk memberikan Pelatihan Zero Waste Lifestyle. Bertempat di Marbella Suites Bandung, pelatihan untuk guru-guru se-Asia Tenggara ini berlangsung selama seminggu. YPBB Bandung mengisi sesi Zero Waste Lifestyle dan Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan dalam satu hari. 

Pelatihan Zero Waste Lifestyle yang biasanya dibawakan dalam Bahasa Indonesia, sejak bekerjasama dengan SEAMEO - QITEP in Science pada 2013 lalu, pelatihan ini dibawakan dalam Bahasa Inggris. Beruntung, saat itu saya membantu menerjemahkan dokumen dan menjadi trainer (bersama dengan Perswina) untuk pertama kalinya. Itu adalah pengalaman pertama saya membawakan sesi pelatihan dalam Bahasa Inggris. Beruntung lagi, di tahun ini untuk kedua kalinya, saya membawakan kembali pelatihan tersebut dalam Bahasa Inggris, yang mana sebelumnya sudah kami (saya dan Rikrik) perbaiki terkait tampilan presentasi dan tata bahasa. 

Sebagai orang yang usianya termuda di dalam ruangan pelatihan (dan juga Haidar yang menjadi panitia), saya merasa ini merupakan tantangan bagi saya yang sudah empat tahun menjadi relawan trainer di YPBB Bandung. Bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi saya lebih menyampaikan apa yang kami kampanyekan di Bandung sejak tahun 1993. Kampanye nol sampah (zero waste) sendiri baru muncul pada tahun 2005, pasca terjadinya longsor di TPA (tempat pembuangan akhir) di Leuwigajah, Cimahi. 

Aktivitas interaktif yang pertama kali dilakukan pada sesi ini adalah menelusuri perjalanan sampah dari rumah. Dari empat orang peserta yang bercerita, mereka memiliki cerita yang berbeda. Peserta pertama dari Surabaya menceritakan bahwa sampah yang dikelola di rumahnya masih dibakar dan dikubur di halaman rumah. Sedangkan peserta kedua dari Semarang bercerita bahwa sampah di daerah tempat tinggalnya dikelola oleh petugas kebersihan yang nantinya akan dipindahkan ke TPA. Lain lagi halnya dengan peserta dari Kuala Lumpur, Malaysia yang telah memulai memisahkan sampah sesuai jenisnya dan memanfaatkannya. Namun, cerita lain dari peserta Indonesia menyebutkan bahwa kebanyakan sampah yang ada berada di daerahnya dibuang ke laut. 

Peserta diajak untuk menelusuri perjalanan sampahnya masing-masing

Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh peserta pertama, kedua, dan keempat, merupakan pengelolaan yang umum dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Yang mana hal tersebut hanya bersifat menimbun sampah. Penimbunan sampah ini (tanpa adanya pengelolaan yang berkelanjutan) nantinya akan berakibat buruk. Jika kita mengingat lagi apa yang terjadi pada TPA di Leuwigajah 10 tahun yang lalu, bukan tidak mungkin bahwa kejadian tersebut bisa menimpa daerah lain. 

Sampah yang ditimbun (baik dibuang ke sungai, dibuang ke TPA, dibakar, ataupun dikubur) akan menimbulkan dampak negatif kepada lingkungan. Beberapa racun, seperti logam berat, dioksin, dan stiren, akan keluar dan mengancam kesehatan manusia. Ancaman tersebut akan disebarkan lewat udara, air, dan makanan. Pembuangan sampah yang tidak bertanggung jawab seperti itu akan mengancam pihak lain. Mengapa? Karena hal tersebut hanya memindahkan sampah dari tempat tinggal kita ke tempat lain, yang mana orang lain yang akan terkena ancaman tersebut. 

YPBB melalui kampanye nol sampah (zero waste) mengajak masyarakat di Bandung untuk mengurangi aksi dan dampak dari pembuangan sampah yang tidak bijak di atas dan mulai untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Bagaimana caranya? YPBB mengenalkan dua langkah sederhana untuk mengelola sampah hingga 80-90%. Komposisi sampah di Kota Bandung sendiri didominasi oleh sampah organik (63%), sampah anorganik yang bisa didaur ulang (23%), dan sampah anorganik yang berupa residu (14%). Dengan melakukan dua langkah sederhana berikut, setidaknya Kota Bandung bisa mengelola 86% sampahnya. Apa saja langkah-langkah tersebut?

Langkah 1: Pisahkan sampah dari awal.
Kita mengenal dua jenis bahan yang ada di sekitar kita, organis dan anorganis. Dengan mengenal bahan-bahan ini, kita akan mudah untuk mulai membiasakan pemisahan sampah sejak awal dibuang. 

Langkah 2: Manfaatkan sampah-sampah tersebut.
Sampah organis bisa kita komposkan (bisa dengan keranjang Takakura atau memanfaatkan Lubang Resapan Biopori) dan bahan-bahan anorganik bisa kita salurkan kepada organisasi yang bisa mengelolanya. Bank-bank sampah bisa menjadi mitra untuk pengolahan sampah anorganik setelah dari tempat tinggal kita. 

Untuk memudahkan kita, ada berbagai macam metode dalam membantu kita dalam pemisahan tersebut. Ada model pemisahan sampah dua jenis (organik/anorganik), ada juga yang lima jenis (organik mudah terurai/organik sulit terurai/kertas/anorganik bisa didaur ulang/dan residu). YPBB sendiri sejak 2013 memulai dengan memisahkan sampah ke dalam lima jenis wadah yang berbeda. Lain dengan di Jepang yang sudah terbiasa memisahkan sampah ke dalam tujuh jenis yang diangkut berbeda setiap harinya oleh petugas kebersihan. 

Peserta mempraktekkan penggunaan keranjang Takakura

Pesan penting yang disampaikan dari pelatihan ini adalah pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab individu, sehingga kita harus bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan. Melalui dua langkah sederhana di atas, setidaknya kita bisa mengurangi timbulan sampah yang akan berakhir di TPA. 

Bagaimana dengan sampah residu? Zaman sekarang banyak sekali produk yang diciptakan dengan tingkat keawetan yang rendah atau hanya didesain untuk sekali pakai. Misalnya saja kantong plastik atau botol minuman. Padahal, mereka bisa diganti dengan bahan lain yang bisa dipakai ulang terus menerus. Masalah lainnya juga baterai-baterai sekali pakai (yang hingga saat ini belum ada yang mendaur ulangnya) dan popok bayi serta pembalut wanita yang sering ditemukan di sungai (padahal ini termasuk kategori limbah berbahaya dan beracun!). Sebagai konsumen, kita sebaiknya mulai menjadi konsumen yang pintar dalam memilih produk mana yang baik untuk kita dan lingkungan. 

Jika kita mengacu pada hierarki pengelolaan sampah, kita akan diingatkan bahwa pembuangan sampah merupakan tingkatan yang paling rendah. Padahal, kita bisa melakukan banyak upaya dari tahapan yang paling tinggi, yaitu pencegahan. Dalam pengelolaan sampah, bukan hanya teknologi saja yang dipikirkan. Pola pikir yang ada pada masyarakat justru hal yang paling penting untuk diupayakan sehingga permasalahan sampah ini bisa dilakukan secara bersama-sama. 

Peserta "Environmental Education on Sustainable Development"
dari SEAMEO - QITEP in Science.

Melalui kampanye nol sampah (zero waste) ini, YPBB menyampaikan pesan bahwa pengelolaan sampah bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Masyarakat sebagai penghasil sampah juga harus terlibat dalam menyelesaikan masalah ini. Juga pihak swasta yang seharusnya juga bertanggung jawab terhadap sampah kemasan dari produknya. Hal ini sudah diatur dalam Undang Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dimana salah satunya peran swasta dalam extended producer responsibility (EPR). 

Sunday, 24 May 2015

Seberapa militankah Anda?

Akhir-akhir ini gue diganggu dengan kata "militan". Apa sih "militan" itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang diterbitkan Balai Pustaka; bisa diakses daring di http://kbbi.web.id/,

militan /mi·li·tan/ (adjektiva) bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras: untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang -- dan penuh pengabdian

Sudut pandang gue memaknai istilah "militan" ini adalah suatu sifat dalam diri manusia yang sangat bergelora dalam mendorong sesuatu. Konteks dalam tulisan yang kali ini gue angkat adalah militansi dalam kampanye lingkungan. Menurut KBBI, 

militansi/mi·li·tan·si/ (kata benda) ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dalam ber-juang membangun masyarakat


Jika dihitung-hitung, gue menekuni kampanye lingkungan sudah tiga tahun lamanya. Usia yang masih terlalu muda untuk disebut sebagai sebuah konsistensi. Namun, kepada diri sendiri ini merupakan sebuah pembuktian terhadap panggilan hati. Bahkan sudah berani berkomitmen bahwa jalan inilah yang akan ditempuh selama menjadi manusia di bumi ini. 

Berkaitan dengan istilah "militan" di atas, gue mau mencoba mengangkat fenomena militansi kampanye-kampanye lingkungan (termasuk orang-orang di dalamnya yang menggerakkan, bukan hanya organisasinya saja) di kelompok pemuda. Mengapa? Karena dalam 5 tahun terakhir, gue perhatikan cukup banyak kampanye lingkungan yang dimotori anak muda dan cukup populer di kalangan masyarakat. Tidak semuanya militan, tidak semuanya berkontribusi kepada masyarakat secara berkelanjutan. Bahkan, ada beberapa penggeraknya pun terlihat seperti menjalankan "tugas kepemudaan" pada usianya tersebut. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sudah meninggalkan dunia kampanyenya itu tidak meneruskan perilaku gaya hidup ramah lingkungan yang dulu digembar-gemborkan. Di tulisan gue beberapa bulan lalu, pernah menyebutkan bahwa isu ingkungan sangat seksi untuk dijadikan bahan jualan. Bisa jadi, karena keseksian inilah yang menyebabkan tidak banyak organisasi lingkungan saat ini yang jauh dari kata militan. Bahkan untuk organisasi yang sedang gue jalankan saat ini. 

Gue makin merasa malu saat menonton film dokumenter "Come Hell or High Water - The Battle of Turkey Creek", sebuah film dokumenter karya Leah Mahan, beberapa waktu lalu saat diundang Duta Besar Robert Blake. Film tersebut mengangkat kisah Derrick (ada kesalahan penulisan nama di tulisan Amerika dan Keadilan Lingkungan) yang memperjuangkan daerah tempat tinggalnya yang terancam alih fungsi lahan. Derrick berani meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak milik penduduk Turkey Creek. Bayangkan, selama 10 tahun Derrick berjuang untuk menyelamatkan lahan Turkey Creek agar tidak dialih fungsikan! Selama 10 tahun itu dia mengumpulkan keluarga, teman-teman semasa kecil, dan warga lainnya untuk bersama-sama menyelamatkan tempat tinggalnya tersebut. Bolak balik melakukan advokasi kepada pemerintah, melakukan beberapa aksi demonstrasi, dan lain-lain sebagainya. Hingga saat ini pun, Derrick masih memiliki komitmen terhadap Turkey Creek. 

Mari berbicara kampanye lingkungan masa kini...

Gue engga akan menyalahkan siapa-siapa, karena mungkin tren untuk melakukan kampanye lingkungan yang digerakkan oleh anak muda saat ini berbeda. Meski anak muda memiliki semangat yang sangat tinggi, kami, anak-anak muda, pilih-pilih dulu mana yang paling engga membuat lelah. Maka dari itu, kami memilih media sosial untuk melakukan kampanye. Gue menggunakan "kami" karena di satu sisi masih menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarluaskan kampanye. Namun, jangan sesekali mengeneralisir kondisi seperti di atas. Banyak juga anak muda lainnya yang bahkan memilih jalan yang lebih militan. Bahkan militan dalam mendapatkan gelar tertentu. LOL. 

Era digital saat ini, sadar atau tidak, menimbulkan dampak negatif dan positif terhadap kita sebagai pengguna. Bagi kampanye lingkungan, pemanfaatan media digital terlebih lagi media sosial dapat membantu makin meluaskan isu lingkungan sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat bisa meningkat. Meski, ada beberapa oknum yang memanfaatkan media digital ini sebagai arena narsisme yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan kampanye lingkungan. Sesuai skenario atau sesuai panggilan hati, tidak diketahui secara pasti alasannya kecuali kita mengenal orang tersebut. 

Bahkan, orang-orang dengan sifat "militan"-nya berjuang mendapatkan gelar sebagai duta lingkungan dimanapun yang akan lebih dikenal dan dipercayai ketimbang aktivis lingkungan yang sudah puluhan tahun berjuang. 

Gue sendiri yang baru tiga tahun berkecimpung di kampanye lingkungan merasa belum melakukan sesuatu yang besar dalam melakukan perubahan berarti untuk keselamatan lingkungan. Gue kampanye lingkungan ke sekolah, ke tempat-tempat publik lainnya, di media sosial, dan lain-lain, tetapi kantong plastik tetap banyak digunakan. Militansi seperti apa yang dibutuhkan?

Gue menulis tulisan ini pun tidak akan berarti apa-apa jika gue tidak melakukan apa yang gue ungkapkan disini. Kita semua TIDAK hidup di dunia digital, tetapi hidup yang serba dilengkapi alat-alat digital. Kita ini makhluk yang nyata dan hidup di bumi yang nyata pula. Kita bisa lihat bahwa kerusakan lingkungan terjadi NYATA di depan mata kita. Bohong kalau ada yang tidak pernah mengalami kerusakan lingkungan. Perilaku membuang sampah sembarangan, menggunakan produk-produk yang memiliki kemasan sekali pakai, membakar sampah, dan lain-lain sebagainya adalah perilaku pemicu kerusakan lingkungan. Memang kita tidak sadar bahwa kita sendiri yang melakukan kerusakan lingkungan. 

Ada beberapa aktivis lingkungan yang gue kenal termasuk aktivis yang militan. Bahkan beberapanya membangun organisasi sendiri dan memiliki konsistensi yang yahud. Komitmennya pun tidak perlu diragukan lagi. Coba kamu bayangkan, ada lho yang tidak pernah membeli pakaian bertahun-tahun lamanya karena paham keberlanjutan yang beliau anut. Bahkan, ada yang mengesampingkan urusan pribadinya demi kemaslahatan orang banyak. 

Bukan pegiat lingkungan atau aktivis lingkungan atau menyebut dirinya seseorang yang peduli lingkungan kalau belum turun ke lapangan. Aktivis sosial media hanyalah buzzer yang tugasnya mengiklankan sesuatu. Aktivis lingkungan harus membuat perubahan berarti dan ada di lapangan, bukan di Twitter. Apa artinya kamu sering-sering kampanye di media sosial tapi perilaku kamu sendiri dalam isu lingkungan tidak ada? Lingkungan hidup tidak membutuhkan orang-orang dengan kemampuan lip-service yang mahir. Sama sekali tidak. Lingkungan hidup membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten dalam melakukan perubahan-perubahan NYATA dalam menyelamatkan kondisi lingkungan hidup. 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Kita hadir di dunia ini pun melalui proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Proses menjadi lebih baik adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, kata "proses" jangan dijadikan alasan kalau tidak dibuktikan. Lagi-lagi, lingkungan hidup dan bumi tidak butuh orang dengan kemampuan lip-service. Banyak cara untuk menjadi aktivis lingkungan yang militan. Militan bukan berarti demo terus menerus atau cenderung anarkis. Namun, berkomitmen dalam melakukan perubahan-perubahan berarti dalam menyelamatkan lingkungan hidup dengan konsisten. Bukankah Tuhan menciptakan kita di dunia untuk menjaga bumi beserta isinya? 

Jika kamu ingin mulai bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan lingkungan, silahkan telusuri 8 kampanye pilihan gue, pilih dan ikuti kegiatannya yang sesuai dengan panggilan hati (penulisan angka bukan menunjukkan peringkat):




Monday, 29 December 2014

Kolaborasi Kuliner dan Kampanye Lingkungan

Entah sudah berapa bulan gue gak ketemu ama sahabat gue satu ini. Bulan lalu, akhirnya kita janjian buat ketemuan. Padahal jarak engga jauh-jauh amat. Gue di Jakarta, dia di Depok. Semua beres berkat Commuter Line. Waktu itu gue ama dia cuma pengen ketemu aja sambil ngobrol-ngobrol. Karena sudah takdir Tuhan, pertemuan itu jadi awal kolaborasi gue ama sahabat gue ini.

Seperti yang udah kalian ketahui, gue adalah pegiat isu lingkungan. Gak perlu aku ceritain lagi. Nah, gue mau cerita tentang sahabat gue ini. Kita nge-geng udah dari tahun 2009 sejak aktif di BEM Kema Unpad, tepatnya Departemen Minat dan Bakat bareng Naluri, Ibel, Dina, dan Nina. Dia sempet ngilang sih gara-gara putus ama pacarnya. Hahaha. Sejak lulus kuliah, dia pindah ke Lampung. Disana dia merintis usahanya sendiri di wedding organizer. Katanya sih satu-satunya di Lampung. Sebelum pindah ke Depok untuk kuliah master, dia sempet nyoba-nyoba bikin sabun ramah lingkungan sendiri.

Nah, pas pindah ke Depok, otaknya dia tetep kreatif. Engga mungkin ‘kan bawa usaha wedding organizer ke Depok sambil kuliah? Karena latar belakang keluarganya dia yang rentan kena penyakit, sahabat gue ini kepikiran bikin usaha catering makanan sehat. Catering diet mayo. Udah pada tahu kan diet mayo itu apaan? No, itu bukan diet makan mayonnaise atau diet hanya makan mayonnaise doank. Diet mayo itu pola makan dengan membatasi asupan garam, air es, MSG, dan zat aditif lainnya, sepanjang informasi yang gue tahu. Diet mayo ini dilakukan selama 13 hari dan setahun sekali. Kita engga mau kena gondongeun ataupun penyakit gondok karena kekurangan iodium ‘kan? Gue pernah sih nyobain diet mayo, tapi gagal di hari pertama karena godaan mie bakso! Hahaha.

Usut punya usut, temen gue yang dulu pernah bareng-bareng kampanye lingkungan juga di Bandung ini, ternyata engga cuma promosi pola makan sehat. Dia juga promosi gaya hidup ramah lingkungan juga lho! Jadi, waktu ketemuan bulan lalu itu, secara engga sengaja obrolan kita mengarah ke pengemasan makanan yang digunakan oleh sahabat gue itu. Ternyata, dia engga pakai dus, plastik, atau styrofoam. Dia bela-belain membeli kontainer plastik pakai ulang yang foodgrade. Engga hanya itu, dia juga nganter kotak makanan ke kliennya engga dibungkus plastik. Dia menyediakan tas kain.

Sementara itu, organisasi gue ini pengen mendorong model bisnis tanpa kantong plastik, dan sahabat gue ini udah melakukannya duluan. Jadi, sejak saat itu, kami sepakat untuk kolaborasi program. Dari segi kuliner, dia mempromosikan pola makan sehat yang dikemas dengan wadah ramah lingkungan dan tentunya food grade. Dari segi lingkungan, dia juga mempromosikan bagaimana memakai ulang wadah untuk membawa makanan. Gue, mewakili organisasi gue dan juga sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong, berkewajiban untuk membantu mempublikasikan ini. Dia dapet promosi, gue dapet contoh baik untuk dipublikasikan. Simbiosis mutualisme.


Mulai tahun depan, 2015, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik akan berkolaborasi dengan Mayo Diet Reinvented, karya sahabat saya, Idea Bhakti Pratiwi, untuk mempromosikan pola makan sehat dan gaya hidup ramah lingkungan secara bersama-sama. Bagaimana kita bisa mengonsumsi makanan yang sehat jika masih menggunakan wadah yang sekali pakai dan menimbulkan bencana sampah di kemudian hari? 

Wednesday, 26 November 2014

Zero Waste Kit Untuk Lingkungan Yang Lebih Baik

Sejak mengikuti pelatihan mengenai persampahan lebih dari tiga tahun yang lalu, gue selalu kepikiran terkait barang-barang yang dibeli maupun digunakan."Nyampah gak ya?", "bakalan ada yang mulungin buat didaur ulang gak ya?", "proses pembuatannya gimana nih?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bikin galau ekologis. Saat itu, yang bisa gue lakukan adalah baru memulai mengurangi penggunaan kantong plastik dan botol plastik. Cara yang gue lakukan untuk memulai gaya hidup nol sampah kala itu adalah membawa tas belanja sendiri dan botol minum sendiri. Kalau sebelumnya pakai botol minum yang masih terbuat dari plastik PP, sekarang sedang membiasakan menggunakan botol dari kaca. Botol yang gue punya adalah botol minum merek Equil dan Aqua Reflections. Gak ada alesan lagi buat engga punya botol minum. Kalau beli tumbler masih dirasa cukup mahal, beli aja botol kaca merek ini. Harga hanya berkisar antara Rp12.000-14.000 saja. Bahan kaca lebih ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan. 

Botol minum dan tas belanja selalu ada di dalam tas. Selain tas belanja yang umum dipakai, kali ini saya juga bawa tas untuk membeli buah-buahan. Botol minumnya pun botol kaca bekas air mineral.


Makin banyak diskusi dan membaca artikel, ternyata cukup banyak barang-barang yang bisa menunjang gaya hidup nol sampah. Akhir-akhir ini, gue dan teman-teman di Perkumpulan YPBB sedang membicarakan mengenai sedotan pakai ulang. Mulai dari jenis kaca hingga stainless steel, sampai akhirnya kita-kita pakai yang terbuat dari bambu. Sombongnya, aku duluan yang udah mulai pakai sedotan bambu ini. Hahaha. Oh iya, sedotan ini kalo udah dipakai langsung dicuci aja dengan sikat kecil biar bersih dan jangan lupa dikeringkan. Terbuat dari bambu, dikhawatirkan kalo engga kering bisa lumutan. Seminggu sekali direbus dengan mencampur air dan sedikit cuka, biar benar-benar bersih. 

Sedotan bambu dari Nadine Zamira, oleh-oleh dari Ubud.


Sebelum memakai sedotan ini, aku terkadang lupa dan ingat untuk menolak sedotan plastik sekali pakai dari tempat makan. Kalau lagi ingat, minuman yang kupesan langsung saja aku teguk langsung. Namun, setelah menggunakan sedotan bambu ini, seluruh pesanan minuman aku tolak pakai sedotan plastik dari mereka. Hahaha. Maaf ya, Pak, Bu, biar hemat juga gak beli sedotan plastik melulu. Hehehe. 

Waktu di tahun 2012, gue pernah mengunjuni Hummingbird di Jalan Progo, Bandung, dan memesan teh. Ada hal yang menurut gue menarik. Mereka menggunakan tea infuser dari stainless steel untuk menyeduh teh. Sejak saat itu, gue kalo sempat mengunjungi supermarket (dan kalau inget) mencari-cari tea infuser macam itu. Gue baru menemukannya beberapa minggu lalu di Lotte Mart Ratu Plaza, Jakarta. Sooooo happy! Hal-hal yang gue cari selama ini secara engga sengaja ketemu. Di kantor, kalo gue mau minum teh, gue bawa teh tubruk sendiri dan memakai tea infuser itu. Orang kantor pada nanya juga itu apaan. Enaknya pakai tea infuser ini adalah bisa dibawa kemana-kemana. Kalau kita diem di rumah, bisa pakai saringan aja yang mudah. Oh iya, teh tubruknya udah gue beli duluan dari beberapa bulan yang lalu lho. Hahahaha. 

Minum teh tak pernah seseu ini. Hehehe.


Terakhir, zero waste kit yang gue punya adalah sendok dan garpu. Hahaha. Standar sih, yang jenis ini mah banyak yang jual. Tidak seperti sedotan bambu dan tea infuser yang masih sulit ditemui. Sendok dan garpu ini bisa jadi penyelamat kalau-kalau kamu ditawari sendok dan garpu plastik. 

What's your kit?

Nah, kan. Sendok dan garpu, tentunya tempat makan akan sangat berguna kalau kamu mengunjungi pameran yang mana mereka menyajikan dengan barang-barang sekali pakai.


So, apa upayamu untuk mewujudkan gaya hidup nol sampah? Upayamu turut mendukung tujuan pemerintah Republik Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020 lho :)

Jangan lupa ya zero waste kit-nya selalu dibawa :)

Wednesday, 15 October 2014

Berbagi Informasi: Pelaksanaan Adipura tahun 2015

Tahun ini, Kota Surabaya mendapatkan penghargaan Adipura Kencana sebagai Kota Metropolitan yang memiliki wawasan lingkungan melebihi kota lainnya. Hal ini patut dicontoh kriteria kota serupa untuk memiliki wawasan lingkungan yang bersaing, bukan untuk mendapatkan penghargaan, tetapi untuk menyelamatkan bumi. 

Tanggal 13-14 Oktober kemarin, gue mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara "Refleksi dan Apresiasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2009-2014" dan "Rakornas Adipura dan Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang Lingkungan Tahun 2015" dari Kementerian Lingkungan Hidup. Acara ini bisa disebut merupakan sarana laporan pertanggung jawaban kinerja Kementerian Lingkungan Hidup kepada kepala daerah/yang mewakilkan. Peserta acara ini memang merupakan kepala daerah (baik kabupaten, kota, maupun provinsi) atau yang mewakilkan, gue mewakili Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (dan ada teman gue yang mewakili Greeneration Indonesia) mendapatkan undangan langsung dari Pak Rasio Ridho Sani (Sekretaris Menteri) untuk mengikuti acara ini. Terima kasih sudah mengundang!

Di #1minggu1cerita edisi minggu ini, gue mau berbagi mengenai informasi yang baru didapat dari acara tersebut. Menurut gue ini penting banget bagi komunitas lingkungan (dan masyarakat) untuk bisa mengambil peran dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan dalam kaitannya dengan Adipura. Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik sendiri memang sedang dalam tahap kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dalam penerapan EPR (Extended Producer Responsibility) khusus kantong plastik. Jadi, acara ini penting untuk diikuti. 

Ada pengembangan dalam penilaian Program Adipura mendatang (periode 2015) akibat dari berbagai macam latar belakang salah satunya adalah karena lahirnya Millenium Sustainable Goals (MSGs), yang merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs). Selain itu, pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional bulan Februari lalu, lahirlah Deklarasi Surabaya: Mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020, yang merupakan komitmen walikota, bupati, dan pelaku usaha dalam Gerakan Indonesia Bersih Sampah Menuju Masyarakat Berbudaya 3R. Juga, perlunya perancangan dan produksi terhadap produk dan pengemasan yang ramah lingkungan yang didukung oleh industri daur ulang (konteks EPR). Hal terakhir ini yang sedang gue dan rekan-rekan di Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik sedang dorong. 

Lanjutan Latar Belakang Pengembangan Program Adipura Tahun 2015 (dokumentasi pribadi)

Pokok Masalah: Revitalisasi Program Adipura (dokumentasi pribadi)

Sejak 1986 saat Program Adipura pertama kali diluncurkan, program ini selalu melakukan pengembangan versi. Seperti yang terlihat pada gambar berikut:
Program Adipura akan segera menuju Sustainable Cities di 2020/2030! yeay! (dokumentasi pribadi)
Salah satu instrumen dalam penguatan konsep Adipura adalah insentif reputasi. Ini penting banget lho! Emang mau reputasi kota jadi jelek karena ga menerapkan konsep kota berkelanjutan? Engga kan. Makanya ini jadi faktor yang penting. Instrumen ini bertujuan untuk mendorong kepemimpinan walikota/bupati dalam mendukung Good Environmental Governance untuk mewujudkan kota yang bersih, teduh, sehat, dan berkelanjutan dengan dukungan dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha. Sasaran yang dicapai dari instrumen ini adalah penurunan beban pencemaran, penurunan laju kerusakan lingkungan dan peningkatan kapasitas aparat daerah secara berkelanjutan melalui berbagai macam alternatif kegiatan.

Alternatif kegiatan dalam rangka Good Environmental Governance (dokumentasi pribadi, maaf agak blur)
Peningkatan kredibilitas dalam rangak penguatan governance dalam penilaian Program Adipura
(dokumentasi pribadi, maaf euy rada blur)
Dan ini tahapan bagaimana kota kita bisa mendapatkan Adipura! yuk berpartisipsi (dokumentasi pribadi)
Kita-kita nih bisa berpartisipasi juga lho untuk menjadi bagian dalam mewujudkan kota layak huni (sustainable cities) melalui kegiatan lingkungan yang memiliki dampak (ayo, sudah saatnya naik tingkat dari kegiatan awareness campaign aja) nyata yang bisa diukur. Kitapun bisa mengawasi program yang dilakukan oleh pemerintah setempat. 

Ada tiga aspek penilaian dalam Program Adipura. Masing-masing kriteria kota berbeda bobotnya (kota metropolitan, besar, sedang, dan kecil). Ketiga aspek tersebut adalah Pengelolaan Sampah dan RTH, Pengendalian Pencemaran Air, dan Pengendalian Pencemaran Udara. Berikut detilnya:

Ini bobot penilaian aspek untuk kota metropolitan dan besar (dokumentasi pribadi)

Kalau ini bobot penilaian aspek untuk kota sedang dan kecil (dokumentasi pribadi)
TETAPI ...

NAH LHO! TPA bersama di Kabupaten Bandung Barat masih open dumping deh, Gimana donk? (dokumentasi pribadi)

Dorongan yang bagus buat kabupaten dan kota untuk memikirkan alternatif cara untuk mengelola sampah. Pengelolaan sampah secara desentralisasi jadi pilihan yang tepat toh? Colek YPBB. Hehehehe. Mengelola sampah adalah tanggung jawab masing-masing orang. Orang kita yang nyampah, menapa pemerintah yang ngelola? Kasian tau. Gue paham sekarang mengapa pemerintah dinilai lambat dalam melakukan perubahan. Dari rapat kemarin, gue takjub banget sama kinerja mereka membuat sistem yang bahkan gue terkaget-kaget (lebay sih, terkesima lah ya yang pas) bahwa mereka bisa membaut sistem sekompleks itu. Jadi, justru kita lah sebagai masyarakat yang harus memiliki peran untuk melaksanakan sistem itu. Perubahan bakalan cepet kalo pemerintah-swasta-masyarakat-media-akademisi bersatu dalam kolaborasi. Yuk!

Jenis-jenis penghargaan Adipura ini ada lima jenis, yaitu Anugerah Adipura Kencana, Anugerah Adipura, Sertifikat/Piagam Adipura, Plakat Adipura, dan Praja Adipura. Jenis yang terakhir adalah penghargaan baru yang akan diberikan kepada gubernur yang sekurang-kurangnya 70% dari kota dan ibukota kabupaten mendapatkan Anugerah Adipura Kencana dan/atau Anugerah Adipura di wilayah provinsi tersebut. Wow keren sekali! Anyway, masing-masing jenis penghargaan itu ada kriteria dan indikator yang banyak banget lho! Kemarin cuma dapet beberapa capture kriteria Anugerah Adipura Kencana (sisanya dilewati untuk dijelaskan oleh Asdep Pengelolaan Sampah dan RTH). 

Mari kita bantu pemerintah untuk mendapatkan data yang banyak banget ini (masih ada slide lain yang gak kefoto semua). Caranya? :) (dokumentasi pribadi)
Kita bisa menyampaikan pendapat dan saran secara online! (dokumentasi pribadi)
Melalui website adipura.menlh.go.id (lo harus daftar dulu supaya bisa ikutan polling) melalui sistem polling, kita bisa memberikan opini terkait kondisi lingkungan di kota kita dan kita pun bisa memberikan masukan terhadap kota tempat kita tinggal terkait dengan Program Adipura. Hasil polling kita ini akan dijadikan bahan Pemantauan Verifikasi. 

Oh ya, masing-masing aspek ini punya sistem penilaian yang cukup rumit (menurutku), ini kayak lo lagi skripsi tapi live action! bukan biar lo lulus kuliah, tapi ini nyata sedang lo kerjakan untuk hajat hidup orang banyak. Salut buat bapak dan ibu yang bekerja di pemerintahan. 

Sebenernya pengen berbagi banyak foto-foto terkait slide yang ditayangkan kemarin, tapi nanti deh ya kita bagi satu-satu dulu. Biar gak terlalu banjir informasi. Semoga bermanfaat dan selamat malam!

NB:
Foto diambil dari slide yang saat itu ditayangkan (click to enlarge), gue gak dapet dokumen mentahannya. Dapetnya dokumen tentang Dana Alokasi Khusus yang masih gue pelajari.