Showing posts with label tas pakai ulang. Show all posts
Showing posts with label tas pakai ulang. Show all posts

Sunday, 31 January 2016

Jangan Terkecoh, Ini Kantong Ramah Lingkungan Sesungguhnya!

Kantong plastik di Indonesia akan segera berbayar. Ini adalah buah manis yang dipetik dari perjuangan masyarakat sejak 2013 melalui petisi #pay4plastic. Karena petisi itulah akhirnya Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar yang katanya akan diluncurkan bulan Juni tahun ini. 

Dulu, saat ditanya apa saja solusi alternatif untuk mengurangi kantong plastik, saya selalu menjawab "harus berbayar" dan respons orang-orang selalu bilang "kayak di luar negeri yah!". "Kayak di luar negeri" itu akan segera terjadi di dalam negeri. Ya, di Indonesia akan segera diterapkan kantong plastik berbayar. Kabarnya, 25 kota di Indonesia sudah menyatakan keikutsertaannya kepada KLHK. 

Engga mau donk kalau minta kantong plastik sekarang harus bayar. 

"Kantong plastik doank harus bayar!". 

Hey, manusia-manusia ignorant dan egois! Elo udah hidup numpang di bumi sukanya ngurusin diri sendiri doank. Mikir dikit napa biar keliatan lulusan perguruan tingginya.

Kebijakan kantong plastik berbayar jangan elo asumsikan sendiri tanpa mendapatkan informasi yang lengkap.  

"Enak di mereka (peritel) donk dapet untung dari situ (kantong plastik berbayar)!"

Eh buset dah yah lo! Elo kalo baca berita yang bener napa. Emang siapa yang bilang mereka dapet untung dari jualan kantong plastik?

Gini ya, ibu, bapak, saudara, saudari, mas, mba, akang, teteh...

Kabar-kabarnya sih duit dari kantong plastik berbayar itu engga boleh masuk kas pemerintah, kas ritel, maupun kas kalian semua....

"Lha, terus dikemanain?"

Ya, buat nutup mulut kalian semua supaya diem dan engga mau beli kantong plastik lagi. Ga paham? Artinya ya buat kegiatan lingkungan yang udah dirusak sama kalian semua. Ngerti? Yaudah kalo engga ngerti. 

Jawaban sederhananya, "Ini peraturan pemerintah". Case closed, no question's asked. 

"Yaudah kalo gitu kan sekarang ada kantong plastik ramah lingkungan yang hancur cepet".

Menurut elo itu cepetnya berapa lama? Tau?

"Ya engga, kan yang penting cepet."

Kumsi we lah urang lieur.

Ibu, bapak, saudara, saudari, mas, mba, akang, teteh yang saya hormati...

Kalian semua memang korban iklan....tahukah, bahwa kantong plastik itu, mau yang ramah lingkungan atau yang tidak, tetep kalian pake cuma sekali. Udah gitu dipakai buat tempat sampah pula. Kasian engga? Itu kantong plastik udah dibuat dengan teknologi tinggi dan salah satu keajaiban karya manusia, tapi nilainya cuma sebatas sampah? 

Kantong plastik yang kalian yakini benar sebagai produk yang ramah lingkungan itu tetep merusak lingkungan .... 

Mau ditambah senyawa yang bisa mempercepat kehancuran kantong plastik kek, mau dari singkong kek, intinya itu barang kalau udah dipake sekali, langsung dibuang. LANGSUNG DIBUANG. Ngapain elo pakai barang yang sekali pakai? Hahahaha.....

Hambur sumber daya alam sateh....

Tahukah Anda? Indonesia dituduh sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua sedunia? Engga yah? Ih kasian deh... dan engga peduli juga kan? 

Meski engga peduli, biarkan guweh menjelaskan ini .... *penulis ini hanya butuh sedikit respek*

Kantong plastik yang dapet sertifikasi lingkungan maupun engga, masih ada unsur polimernya yang, you know, memiliki rantai karbon yang panjang, sehingga menyebabkan dia akan sulit terurai di alam. Kantong-kantong plastik yang dipake di toko-toko modern sekarang yang kata elo ramah lingkungan itu, sama aja kayak kantong plastik yang biasa, cuma ditambahin senyawa kimia yang sifatnya bisa mempercepat dia jadi hancur. Nah, kalo udah hancur jadi apaan?

Mikroplastik. Kantong plastik itu jadi hancur kayak hati elo kalo abis diputusin. Si mikroplastik ini masih sangat bisa mencemari lingkungan hidup (lingkungan hidup bukan cuma pohon ya, please deh!). Sama kayak elo kalau udah diputusin, hancur hatinya bikin temen-temen elo kena cipratan kekesalan elo. Karena bentuknya udah kecil banget kayak butiran debu, dia bisa terbang, masuk ke saluran air, diem di tanah (yang mana tetep lama kalo klaim perusahaan bilang bisa jadi "kompos" lagi). 

Elo tau UNEP engga? Engga ya? Yaudah guweh kasih tau. UNEP itu singkatan dari United Nations Environmental Programme, atau badan lingkungan hidupnya Perserikatan Bangsa Bangsa deh biar gampang. Nah, UNEP tahun lalu mengeluarkan dokumen hasil risetnya mereka yang judulnya "Biodegradable Plastics & Marine Litter: Misconceptions, Concerns and Impacts on Marine Environmental". 

Katanye UNEP, kantong plastik macam begituan bakalan hancur 100% kalo dikompos skala industri (suhunya sekitar 50 °C). Nah, kalo di rumah lo? Syukur-syukur kalo punya komposter, paling banter suhunya 20 °C. Mana bisa ancur. Nah, kalo dibuang gitu aja? Di tempat sampah yang ujung-ujungnya ke tempat pembuangan sampah akhir, mana bakalan ancur kecampur-campur gitu ama pembalut atau sampah surat cinta yang batal elo kasih. Kesel deh gue!

Engga bisa seenak itu bilang, ini ramah lingkungan dan itu engga. Itupun ada standarnya. Ya okelah ada standarnya secara ilmiah, tapi secara alamiah mikir aja ngapain pake barang yang sekali pakai doank? 

"Terus gue belanja pake apa donk? Aaaarrgggghhhh.....ini salah itu salah...BHAY!"

Elo yang bhay! Ini nih kantong yang sesungguhnya ramah lingkungan ....





"Tas beginian mah gue banyak di rumah!"

Kepikiran engga buat dipake naro belanjaan? 

"Lupa sih...hahahha"

Kebiasaan orang tuh pengen dapet barang gratisan tapi engga dimanfaatkan. Bhay. 

Ini tas beginian yang suka elo dapet sebagai goodie bags di acara seminar, pengajian, atau lainnya, bisa dipakai sebagai substitusi kantong plastik yang sekali pakai itu. 

Kalau mau gaya ya beli donk! Masa cicilan henpon 12 bulan bisa, beli tas belanja pakai ulang kagak. Gengsi donk udah kece-kece nentengnya kantong plastik. Wkwkwkwkwkw.

Nih, ya, kenapa gue sebut ini kantong yang ramah lingkungan sesungguhnya...Ini tas engga bakalan elo buang begitu lo beli atau dapet gratisan. Tas beginian lebih awet dan kuat daripada kantong plastik. Kalau sobek, ya jahit aja lagi buat nutupin lubangnya. Gampang kan? 

"Iya juga sih bener yah. Hahaha"

Udah ngerti kan sekarang kudu ngapain kalo engga mau bayar kantong plastik lagi?


 

Tuesday, 21 April 2015

Kantong mana yang lebih baik?

Hari Kamis lalu, tanggal 16 April 2015, gue berkesempatan memoderatori seminar tentang polimer. Alumni Fakultas Pertanian menjadi moderator seminar tentang polimer. Tunggu dulu. Untungnya seminar ini lebih mengedepankan isu kantong alternatif pengganti kantong plastik. Jadi, bahasa yang digunakan tidak terlalu ilmiah. 

Pembicara seminar ini berasal dari sektor yang berbeda. Pembicara pertama adalah Dr.Asmuwahyu Saptorahardjo yang merupakan Technical Advisor dari Enviplast dan juga dosen di Fakultas MIPA di Universitas Indonesia. Beliau menuturkan bahwa singkong bisa menjadi bahan baku alternatif dalam pembuatan kantong sekali pakai pengganti kantong plastik yang berbahan baku minyak bumi. Jangan dulu salah paham, singkong yang digunakan adalah singkong industri. Bukan untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan. Enviplast mengklaim bahwa bahan baku yang digunakan hampir 100% tepung singkong dengan tambahan bahan-bahan lainnya. Mereka juga mengklaim bahwa tidak ada plastik dalam produknya. Sehingga kantong singkong ini bisa dikompos. 

Pembicara kedua adalah Marliati Sasongko yang merupakan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan BPLHD DKI Jakarta. Beliau menuturkan upaya pemerintah daerah dalam mengatasi masalah sampah dan kantong plastik. Di tahun 2011, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan Indonesia Solid Waste Association (InSWA) memberikan kategori pada 23 ritel yang menggunakan kantong ramah lingkungan. Kantong ramah lingkungan yang dimaksud adalah kantong plastik oxo-degradable yang merupakan produk dari Oxium (PT. Tirta Marta). Bedanya dengan Enviplast, Oxium ini masih menggunakan bahan baku plastik dengan tambahan yang disebut oxo untuk mempercepat proses degradasi kantong plastik secara oksidasi. 

Pembicara terakhir adalah Dr.Eng. Agus Harsono, yang merupakan Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI. Ternyata, LIPI sedang mengembangkan kantong berbahan baku biomassa. Bahan ini bisa jadi alternatif pengganti plastik. Hingga saat ini, kantong dari biomassa sedang dalam tahap penelitian lebih lanjut dan akan dikembangkan menjadi produk kantong plastik. 

Hal yang membuat gue tertarik adalah masih banyak mahasiswa yang bertanya: "Jadi, ramah lingkungan itu apa? Apa kriteria produk ramah lingkungan". Masing-masing pembicara menjelaskan versinya masing-masing. Tergantung standar apa yang dianut. Tentunya, mempromosikan produk masing-masing. 

Opini pribadiku, kategori ramah lingkungan mengacu kepada konsep berkelanjutan. Dimana kita memahami daur hidup suatu produk, dari hulu ke hilir. Artinya, kita harus memastikan bahan baku yang kita gunakan dari mana, bagaimana proses produksinya, bagaimana limbah diolah, bagaimana pembuangan produk itu nantinya, dampak ke lingkungan akan seperti apa, dan bla bla bla. Kita tidak bisa menilai hanya dari hulunya saja atau hilirnya saja. Mereka satu kesatuan supaya kita paham akan perlakuan kita terhadap alam. 

Menggunakan tas belanja pakai ulang pun belum tentu disebut perilaku ramah lingkungan, kalau kita seringkali membeli tas pakai ulang karena sering lupa bawa. Ingat, kantong plastik tetap diproduksi, dan tas belanja pakai ulang pun banyak yang memproduksi. Untuk disebut ramah lingkungan, paling tidak kita selalu konsisten menggunakan tas pakai ulang minimal 100+ kali selama hidup kita. 

Jadi, kantong mana yang lebih baik? Semua ada pada pilihan Anda. 


Monday, 29 December 2014

Kolaborasi Kuliner dan Kampanye Lingkungan

Entah sudah berapa bulan gue gak ketemu ama sahabat gue satu ini. Bulan lalu, akhirnya kita janjian buat ketemuan. Padahal jarak engga jauh-jauh amat. Gue di Jakarta, dia di Depok. Semua beres berkat Commuter Line. Waktu itu gue ama dia cuma pengen ketemu aja sambil ngobrol-ngobrol. Karena sudah takdir Tuhan, pertemuan itu jadi awal kolaborasi gue ama sahabat gue ini.

Seperti yang udah kalian ketahui, gue adalah pegiat isu lingkungan. Gak perlu aku ceritain lagi. Nah, gue mau cerita tentang sahabat gue ini. Kita nge-geng udah dari tahun 2009 sejak aktif di BEM Kema Unpad, tepatnya Departemen Minat dan Bakat bareng Naluri, Ibel, Dina, dan Nina. Dia sempet ngilang sih gara-gara putus ama pacarnya. Hahaha. Sejak lulus kuliah, dia pindah ke Lampung. Disana dia merintis usahanya sendiri di wedding organizer. Katanya sih satu-satunya di Lampung. Sebelum pindah ke Depok untuk kuliah master, dia sempet nyoba-nyoba bikin sabun ramah lingkungan sendiri.

Nah, pas pindah ke Depok, otaknya dia tetep kreatif. Engga mungkin ‘kan bawa usaha wedding organizer ke Depok sambil kuliah? Karena latar belakang keluarganya dia yang rentan kena penyakit, sahabat gue ini kepikiran bikin usaha catering makanan sehat. Catering diet mayo. Udah pada tahu kan diet mayo itu apaan? No, itu bukan diet makan mayonnaise atau diet hanya makan mayonnaise doank. Diet mayo itu pola makan dengan membatasi asupan garam, air es, MSG, dan zat aditif lainnya, sepanjang informasi yang gue tahu. Diet mayo ini dilakukan selama 13 hari dan setahun sekali. Kita engga mau kena gondongeun ataupun penyakit gondok karena kekurangan iodium ‘kan? Gue pernah sih nyobain diet mayo, tapi gagal di hari pertama karena godaan mie bakso! Hahaha.

Usut punya usut, temen gue yang dulu pernah bareng-bareng kampanye lingkungan juga di Bandung ini, ternyata engga cuma promosi pola makan sehat. Dia juga promosi gaya hidup ramah lingkungan juga lho! Jadi, waktu ketemuan bulan lalu itu, secara engga sengaja obrolan kita mengarah ke pengemasan makanan yang digunakan oleh sahabat gue itu. Ternyata, dia engga pakai dus, plastik, atau styrofoam. Dia bela-belain membeli kontainer plastik pakai ulang yang foodgrade. Engga hanya itu, dia juga nganter kotak makanan ke kliennya engga dibungkus plastik. Dia menyediakan tas kain.

Sementara itu, organisasi gue ini pengen mendorong model bisnis tanpa kantong plastik, dan sahabat gue ini udah melakukannya duluan. Jadi, sejak saat itu, kami sepakat untuk kolaborasi program. Dari segi kuliner, dia mempromosikan pola makan sehat yang dikemas dengan wadah ramah lingkungan dan tentunya food grade. Dari segi lingkungan, dia juga mempromosikan bagaimana memakai ulang wadah untuk membawa makanan. Gue, mewakili organisasi gue dan juga sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong, berkewajiban untuk membantu mempublikasikan ini. Dia dapet promosi, gue dapet contoh baik untuk dipublikasikan. Simbiosis mutualisme.


Mulai tahun depan, 2015, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik akan berkolaborasi dengan Mayo Diet Reinvented, karya sahabat saya, Idea Bhakti Pratiwi, untuk mempromosikan pola makan sehat dan gaya hidup ramah lingkungan secara bersama-sama. Bagaimana kita bisa mengonsumsi makanan yang sehat jika masih menggunakan wadah yang sekali pakai dan menimbulkan bencana sampah di kemudian hari?