Showing posts with label tempat makan. Show all posts
Showing posts with label tempat makan. Show all posts

Monday, 29 December 2014

Kolaborasi Kuliner dan Kampanye Lingkungan

Entah sudah berapa bulan gue gak ketemu ama sahabat gue satu ini. Bulan lalu, akhirnya kita janjian buat ketemuan. Padahal jarak engga jauh-jauh amat. Gue di Jakarta, dia di Depok. Semua beres berkat Commuter Line. Waktu itu gue ama dia cuma pengen ketemu aja sambil ngobrol-ngobrol. Karena sudah takdir Tuhan, pertemuan itu jadi awal kolaborasi gue ama sahabat gue ini.

Seperti yang udah kalian ketahui, gue adalah pegiat isu lingkungan. Gak perlu aku ceritain lagi. Nah, gue mau cerita tentang sahabat gue ini. Kita nge-geng udah dari tahun 2009 sejak aktif di BEM Kema Unpad, tepatnya Departemen Minat dan Bakat bareng Naluri, Ibel, Dina, dan Nina. Dia sempet ngilang sih gara-gara putus ama pacarnya. Hahaha. Sejak lulus kuliah, dia pindah ke Lampung. Disana dia merintis usahanya sendiri di wedding organizer. Katanya sih satu-satunya di Lampung. Sebelum pindah ke Depok untuk kuliah master, dia sempet nyoba-nyoba bikin sabun ramah lingkungan sendiri.

Nah, pas pindah ke Depok, otaknya dia tetep kreatif. Engga mungkin ‘kan bawa usaha wedding organizer ke Depok sambil kuliah? Karena latar belakang keluarganya dia yang rentan kena penyakit, sahabat gue ini kepikiran bikin usaha catering makanan sehat. Catering diet mayo. Udah pada tahu kan diet mayo itu apaan? No, itu bukan diet makan mayonnaise atau diet hanya makan mayonnaise doank. Diet mayo itu pola makan dengan membatasi asupan garam, air es, MSG, dan zat aditif lainnya, sepanjang informasi yang gue tahu. Diet mayo ini dilakukan selama 13 hari dan setahun sekali. Kita engga mau kena gondongeun ataupun penyakit gondok karena kekurangan iodium ‘kan? Gue pernah sih nyobain diet mayo, tapi gagal di hari pertama karena godaan mie bakso! Hahaha.

Usut punya usut, temen gue yang dulu pernah bareng-bareng kampanye lingkungan juga di Bandung ini, ternyata engga cuma promosi pola makan sehat. Dia juga promosi gaya hidup ramah lingkungan juga lho! Jadi, waktu ketemuan bulan lalu itu, secara engga sengaja obrolan kita mengarah ke pengemasan makanan yang digunakan oleh sahabat gue itu. Ternyata, dia engga pakai dus, plastik, atau styrofoam. Dia bela-belain membeli kontainer plastik pakai ulang yang foodgrade. Engga hanya itu, dia juga nganter kotak makanan ke kliennya engga dibungkus plastik. Dia menyediakan tas kain.

Sementara itu, organisasi gue ini pengen mendorong model bisnis tanpa kantong plastik, dan sahabat gue ini udah melakukannya duluan. Jadi, sejak saat itu, kami sepakat untuk kolaborasi program. Dari segi kuliner, dia mempromosikan pola makan sehat yang dikemas dengan wadah ramah lingkungan dan tentunya food grade. Dari segi lingkungan, dia juga mempromosikan bagaimana memakai ulang wadah untuk membawa makanan. Gue, mewakili organisasi gue dan juga sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong, berkewajiban untuk membantu mempublikasikan ini. Dia dapet promosi, gue dapet contoh baik untuk dipublikasikan. Simbiosis mutualisme.


Mulai tahun depan, 2015, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik akan berkolaborasi dengan Mayo Diet Reinvented, karya sahabat saya, Idea Bhakti Pratiwi, untuk mempromosikan pola makan sehat dan gaya hidup ramah lingkungan secara bersama-sama. Bagaimana kita bisa mengonsumsi makanan yang sehat jika masih menggunakan wadah yang sekali pakai dan menimbulkan bencana sampah di kemudian hari? 

Wednesday, 26 November 2014

Zero Waste Kit Untuk Lingkungan Yang Lebih Baik

Sejak mengikuti pelatihan mengenai persampahan lebih dari tiga tahun yang lalu, gue selalu kepikiran terkait barang-barang yang dibeli maupun digunakan."Nyampah gak ya?", "bakalan ada yang mulungin buat didaur ulang gak ya?", "proses pembuatannya gimana nih?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bikin galau ekologis. Saat itu, yang bisa gue lakukan adalah baru memulai mengurangi penggunaan kantong plastik dan botol plastik. Cara yang gue lakukan untuk memulai gaya hidup nol sampah kala itu adalah membawa tas belanja sendiri dan botol minum sendiri. Kalau sebelumnya pakai botol minum yang masih terbuat dari plastik PP, sekarang sedang membiasakan menggunakan botol dari kaca. Botol yang gue punya adalah botol minum merek Equil dan Aqua Reflections. Gak ada alesan lagi buat engga punya botol minum. Kalau beli tumbler masih dirasa cukup mahal, beli aja botol kaca merek ini. Harga hanya berkisar antara Rp12.000-14.000 saja. Bahan kaca lebih ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan. 

Botol minum dan tas belanja selalu ada di dalam tas. Selain tas belanja yang umum dipakai, kali ini saya juga bawa tas untuk membeli buah-buahan. Botol minumnya pun botol kaca bekas air mineral.


Makin banyak diskusi dan membaca artikel, ternyata cukup banyak barang-barang yang bisa menunjang gaya hidup nol sampah. Akhir-akhir ini, gue dan teman-teman di Perkumpulan YPBB sedang membicarakan mengenai sedotan pakai ulang. Mulai dari jenis kaca hingga stainless steel, sampai akhirnya kita-kita pakai yang terbuat dari bambu. Sombongnya, aku duluan yang udah mulai pakai sedotan bambu ini. Hahaha. Oh iya, sedotan ini kalo udah dipakai langsung dicuci aja dengan sikat kecil biar bersih dan jangan lupa dikeringkan. Terbuat dari bambu, dikhawatirkan kalo engga kering bisa lumutan. Seminggu sekali direbus dengan mencampur air dan sedikit cuka, biar benar-benar bersih. 

Sedotan bambu dari Nadine Zamira, oleh-oleh dari Ubud.


Sebelum memakai sedotan ini, aku terkadang lupa dan ingat untuk menolak sedotan plastik sekali pakai dari tempat makan. Kalau lagi ingat, minuman yang kupesan langsung saja aku teguk langsung. Namun, setelah menggunakan sedotan bambu ini, seluruh pesanan minuman aku tolak pakai sedotan plastik dari mereka. Hahaha. Maaf ya, Pak, Bu, biar hemat juga gak beli sedotan plastik melulu. Hehehe. 

Waktu di tahun 2012, gue pernah mengunjuni Hummingbird di Jalan Progo, Bandung, dan memesan teh. Ada hal yang menurut gue menarik. Mereka menggunakan tea infuser dari stainless steel untuk menyeduh teh. Sejak saat itu, gue kalo sempat mengunjungi supermarket (dan kalau inget) mencari-cari tea infuser macam itu. Gue baru menemukannya beberapa minggu lalu di Lotte Mart Ratu Plaza, Jakarta. Sooooo happy! Hal-hal yang gue cari selama ini secara engga sengaja ketemu. Di kantor, kalo gue mau minum teh, gue bawa teh tubruk sendiri dan memakai tea infuser itu. Orang kantor pada nanya juga itu apaan. Enaknya pakai tea infuser ini adalah bisa dibawa kemana-kemana. Kalau kita diem di rumah, bisa pakai saringan aja yang mudah. Oh iya, teh tubruknya udah gue beli duluan dari beberapa bulan yang lalu lho. Hahahaha. 

Minum teh tak pernah seseu ini. Hehehe.


Terakhir, zero waste kit yang gue punya adalah sendok dan garpu. Hahaha. Standar sih, yang jenis ini mah banyak yang jual. Tidak seperti sedotan bambu dan tea infuser yang masih sulit ditemui. Sendok dan garpu ini bisa jadi penyelamat kalau-kalau kamu ditawari sendok dan garpu plastik. 

What's your kit?

Nah, kan. Sendok dan garpu, tentunya tempat makan akan sangat berguna kalau kamu mengunjungi pameran yang mana mereka menyajikan dengan barang-barang sekali pakai.


So, apa upayamu untuk mewujudkan gaya hidup nol sampah? Upayamu turut mendukung tujuan pemerintah Republik Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2020 lho :)

Jangan lupa ya zero waste kit-nya selalu dibawa :)