Showing posts with label #1minggu1ceriita. Show all posts
Showing posts with label #1minggu1ceriita. Show all posts

Tuesday, 9 June 2015

Fenomena Kartu Anggota

Hi, sudah dua minggu nih melewati #1minggu1cerita. Mari mulai bulatkan tekad menulis.

-----

Dua tahun terakhir, gue keranjingan kartu anggota. Kalo zaman sekolah dulu paling banter punya kartu anggota perpustakaan doank. Sekarang, zamannya kartu ada dimana-mana.

Gue gak paham sih mengapa kartu-kartuan ini jadi merajalela. Ada juga yang bilang kalau kartu-kartuan ini bakal "menggeser" uang sebagai alat pembayaran. Bisa juga ini taktik para kapitalis supaya masyarakat menjadi lebih konsumtif, gue salah satunya.

Mari kita cek kartu anggota apa saja yang bikin gue sangat konsumtif.

1. Makan
Mau makan aja sekarang ribet, mening di warteg aja deh kagak usah pake kartu-kartuan hahaha. Di beberapa foodcourt pusat belanja, sudah diharuskan menggunakan kartu. Kagak tau deh tujuannya apa. Benefitnya juga ga ada. Entah itu poin atau hadiah hahaha. Beneran mengganti posisi uang.







2. Ngopi, nonton, belanja
Nah, kalau yang ini gue pake karena ada keuntungannya hahaha. Starbucks card gue pake karena bisa dapet buy 1 get 1 kalo lagi promo menu baru. Selain itu, tiap kali beli dapet bintang, kalo udah 10 bintang bisa dituker minuman gratis. hahaha. Si blitzcard lebih sering gue pake waktu di Bandung, di Jakarta jauh ke menuju Blitzmegaplex terdekat. Ini juga ada poin-poin gitu yang bisa dituker jadi tiket atau makanan. Nah, kalo Lotte Supermarket membercard ini hasil nge-random sama si Mpok. Gara-gara iming-iming diskon 5% doank tiap melakukan pembelanjaan, jadi aja tersihir buat bikin.


3. Skincare
Cowok centil memang. Sukanya beli produk perawatan wajah dan tubuh (sama update gadget!), ketimbang beli yang lain. Maaf yah, soalnya wajahnya bermasalah (selain masalah kurang tampan!). Hahaha. Jadi, aja tergoda untuk punya membercard demi benefit-benefit yang diiming-imingi industri kapitalis. Hahaha. Bahkan gue udah upper member di The Body Shop Indonesia saking keseringan belanja produk DISKON-an hahaha. Kalo di Kiehl's baru bikin, karena lumayan kalo poinnya udah banyak bisa dituker produk deluxe. Si membercard Galleries Lafayette juga bikin karena ditawarin gratis, lumayan lah. Dipake juga kalo lagi beli produk Kiehl's doank. Produk yang lain yang dijual sama department store ini mahal gila, kagak mampu belinya!

4. Transportasi
Bahkan lo mau naik kereta api dan bis pun perlu kartu. Udah ga zaman lagi uang beneran. Pake kartu sekarang mah biar kece. Lama-kelamaan, warteg juga punya mesin EDC kayaknya.









Gue gatau punya kartu-kartuan ini bagus atau engga, boleh atau tidak, berlebihan atau tidak, riya atau tidak, yang penting selama keuntungannya OK bagi konsumen dan tidak membuat kita jadi terlalu konsumtif dan jadi fans fanatik kartu, ya boleh-boleh aja. Semoga tidak nambah lagi kartu anggota lainnya yah. Cukup, Rahyang! Kartu asuransi atau kesehatan aja ga punya! Hahahaha.

Sunday, 24 May 2015

Seberapa militankah Anda?

Akhir-akhir ini gue diganggu dengan kata "militan". Apa sih "militan" itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang diterbitkan Balai Pustaka; bisa diakses daring di http://kbbi.web.id/,

militan /mi·li·tan/ (adjektiva) bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras: untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang -- dan penuh pengabdian

Sudut pandang gue memaknai istilah "militan" ini adalah suatu sifat dalam diri manusia yang sangat bergelora dalam mendorong sesuatu. Konteks dalam tulisan yang kali ini gue angkat adalah militansi dalam kampanye lingkungan. Menurut KBBI, 

militansi/mi·li·tan·si/ (kata benda) ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dalam ber-juang membangun masyarakat


Jika dihitung-hitung, gue menekuni kampanye lingkungan sudah tiga tahun lamanya. Usia yang masih terlalu muda untuk disebut sebagai sebuah konsistensi. Namun, kepada diri sendiri ini merupakan sebuah pembuktian terhadap panggilan hati. Bahkan sudah berani berkomitmen bahwa jalan inilah yang akan ditempuh selama menjadi manusia di bumi ini. 

Berkaitan dengan istilah "militan" di atas, gue mau mencoba mengangkat fenomena militansi kampanye-kampanye lingkungan (termasuk orang-orang di dalamnya yang menggerakkan, bukan hanya organisasinya saja) di kelompok pemuda. Mengapa? Karena dalam 5 tahun terakhir, gue perhatikan cukup banyak kampanye lingkungan yang dimotori anak muda dan cukup populer di kalangan masyarakat. Tidak semuanya militan, tidak semuanya berkontribusi kepada masyarakat secara berkelanjutan. Bahkan, ada beberapa penggeraknya pun terlihat seperti menjalankan "tugas kepemudaan" pada usianya tersebut. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sudah meninggalkan dunia kampanyenya itu tidak meneruskan perilaku gaya hidup ramah lingkungan yang dulu digembar-gemborkan. Di tulisan gue beberapa bulan lalu, pernah menyebutkan bahwa isu ingkungan sangat seksi untuk dijadikan bahan jualan. Bisa jadi, karena keseksian inilah yang menyebabkan tidak banyak organisasi lingkungan saat ini yang jauh dari kata militan. Bahkan untuk organisasi yang sedang gue jalankan saat ini. 

Gue makin merasa malu saat menonton film dokumenter "Come Hell or High Water - The Battle of Turkey Creek", sebuah film dokumenter karya Leah Mahan, beberapa waktu lalu saat diundang Duta Besar Robert Blake. Film tersebut mengangkat kisah Derrick (ada kesalahan penulisan nama di tulisan Amerika dan Keadilan Lingkungan) yang memperjuangkan daerah tempat tinggalnya yang terancam alih fungsi lahan. Derrick berani meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak milik penduduk Turkey Creek. Bayangkan, selama 10 tahun Derrick berjuang untuk menyelamatkan lahan Turkey Creek agar tidak dialih fungsikan! Selama 10 tahun itu dia mengumpulkan keluarga, teman-teman semasa kecil, dan warga lainnya untuk bersama-sama menyelamatkan tempat tinggalnya tersebut. Bolak balik melakukan advokasi kepada pemerintah, melakukan beberapa aksi demonstrasi, dan lain-lain sebagainya. Hingga saat ini pun, Derrick masih memiliki komitmen terhadap Turkey Creek. 

Mari berbicara kampanye lingkungan masa kini...

Gue engga akan menyalahkan siapa-siapa, karena mungkin tren untuk melakukan kampanye lingkungan yang digerakkan oleh anak muda saat ini berbeda. Meski anak muda memiliki semangat yang sangat tinggi, kami, anak-anak muda, pilih-pilih dulu mana yang paling engga membuat lelah. Maka dari itu, kami memilih media sosial untuk melakukan kampanye. Gue menggunakan "kami" karena di satu sisi masih menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarluaskan kampanye. Namun, jangan sesekali mengeneralisir kondisi seperti di atas. Banyak juga anak muda lainnya yang bahkan memilih jalan yang lebih militan. Bahkan militan dalam mendapatkan gelar tertentu. LOL. 

Era digital saat ini, sadar atau tidak, menimbulkan dampak negatif dan positif terhadap kita sebagai pengguna. Bagi kampanye lingkungan, pemanfaatan media digital terlebih lagi media sosial dapat membantu makin meluaskan isu lingkungan sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat bisa meningkat. Meski, ada beberapa oknum yang memanfaatkan media digital ini sebagai arena narsisme yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan kampanye lingkungan. Sesuai skenario atau sesuai panggilan hati, tidak diketahui secara pasti alasannya kecuali kita mengenal orang tersebut. 

Bahkan, orang-orang dengan sifat "militan"-nya berjuang mendapatkan gelar sebagai duta lingkungan dimanapun yang akan lebih dikenal dan dipercayai ketimbang aktivis lingkungan yang sudah puluhan tahun berjuang. 

Gue sendiri yang baru tiga tahun berkecimpung di kampanye lingkungan merasa belum melakukan sesuatu yang besar dalam melakukan perubahan berarti untuk keselamatan lingkungan. Gue kampanye lingkungan ke sekolah, ke tempat-tempat publik lainnya, di media sosial, dan lain-lain, tetapi kantong plastik tetap banyak digunakan. Militansi seperti apa yang dibutuhkan?

Gue menulis tulisan ini pun tidak akan berarti apa-apa jika gue tidak melakukan apa yang gue ungkapkan disini. Kita semua TIDAK hidup di dunia digital, tetapi hidup yang serba dilengkapi alat-alat digital. Kita ini makhluk yang nyata dan hidup di bumi yang nyata pula. Kita bisa lihat bahwa kerusakan lingkungan terjadi NYATA di depan mata kita. Bohong kalau ada yang tidak pernah mengalami kerusakan lingkungan. Perilaku membuang sampah sembarangan, menggunakan produk-produk yang memiliki kemasan sekali pakai, membakar sampah, dan lain-lain sebagainya adalah perilaku pemicu kerusakan lingkungan. Memang kita tidak sadar bahwa kita sendiri yang melakukan kerusakan lingkungan. 

Ada beberapa aktivis lingkungan yang gue kenal termasuk aktivis yang militan. Bahkan beberapanya membangun organisasi sendiri dan memiliki konsistensi yang yahud. Komitmennya pun tidak perlu diragukan lagi. Coba kamu bayangkan, ada lho yang tidak pernah membeli pakaian bertahun-tahun lamanya karena paham keberlanjutan yang beliau anut. Bahkan, ada yang mengesampingkan urusan pribadinya demi kemaslahatan orang banyak. 

Bukan pegiat lingkungan atau aktivis lingkungan atau menyebut dirinya seseorang yang peduli lingkungan kalau belum turun ke lapangan. Aktivis sosial media hanyalah buzzer yang tugasnya mengiklankan sesuatu. Aktivis lingkungan harus membuat perubahan berarti dan ada di lapangan, bukan di Twitter. Apa artinya kamu sering-sering kampanye di media sosial tapi perilaku kamu sendiri dalam isu lingkungan tidak ada? Lingkungan hidup tidak membutuhkan orang-orang dengan kemampuan lip-service yang mahir. Sama sekali tidak. Lingkungan hidup membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten dalam melakukan perubahan-perubahan NYATA dalam menyelamatkan kondisi lingkungan hidup. 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Kita hadir di dunia ini pun melalui proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Proses menjadi lebih baik adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, kata "proses" jangan dijadikan alasan kalau tidak dibuktikan. Lagi-lagi, lingkungan hidup dan bumi tidak butuh orang dengan kemampuan lip-service. Banyak cara untuk menjadi aktivis lingkungan yang militan. Militan bukan berarti demo terus menerus atau cenderung anarkis. Namun, berkomitmen dalam melakukan perubahan-perubahan berarti dalam menyelamatkan lingkungan hidup dengan konsisten. Bukankah Tuhan menciptakan kita di dunia untuk menjaga bumi beserta isinya? 

Jika kamu ingin mulai bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan lingkungan, silahkan telusuri 8 kampanye pilihan gue, pilih dan ikuti kegiatannya yang sesuai dengan panggilan hati (penulisan angka bukan menunjukkan peringkat):




Sunday, 17 May 2015

The Successful Campaign is Yet to Come

Akhir-akhir ini, gue menyadari bahwa salah satu kegagalan seorang aktivis adalah belum bisa mengajak keluarga dan sahabat terdekat untuk melakukan apa yang kita kampanyekan. Ini opini gue setelah mengamati diri gue dan beberapa teman sesama aktivis. Bisa terjadi pada aktivis lain, bisa juga tidak. Belum dilakukan penelitian yang cukup komprehensif untuk membuktikan ini secara ilmiah. 

Sebenernya sudah dari kecil gue dekat dengan isu lingkungan. Nyokap adalah penyayang tanaman. Banyak tanaman di rumah yang dirawat, diperlakukan sama seperti anaknya. Tiap pagi dan sore beliau siram. Bokap sendiri adalah konsultan lingkungan di bidang konservasi hutan. Keahliannya adalah Geographic Information System. Jadi, engga heran gue terjebak menjadi Sarjana Pertanian. Secara tidak langsung, dari kecil, alam bawah sadar gue menerima rangsangan-rangsangan itu dari kehidupan sehari-hari dan pengaruh orang tua. Tidak menjadi kebetulan juga bahwa saat ini gue memilih menjadi aktivis lingkungan. 

*kemampuan gue dalam menganalisis suatu kondisi, bisa membuat gue menyimpulkan ini fufufufufu*

Sudah tiga tahun gue mengampanyekan gaya hidup nol sampah dan diet kantong plastik. Untuk diri sendiri, gue merasakan perubahan yang terjadi. Dari yang tadinya suka minta kantong plastik kalau jajan ke warung atau minimarket, dari yang tadinya suka beli makanan berat yang dibungkus, dari yang tadinya selalu membeli air minum dalam kemasan plastik sekali pakai, dari yang tadinya ini itu, sekarang sudah mulai bisa ditekan. Sejak menjadi tahu tentang pentingnya gaya hidup nol sampah, sejak tahu konsep keberlanjutan, dan sejak memutuskan untuk mengabdikan diri dalam kampanye diet kantong plastik, ada tuntutan dalam diri sendiri untuk mencontohkan kepada orang lain bahwa perilaku seperti itu di atas tidaklah bijak dan perlu mengambil aksi yang nyata untuk menyelamatkan bumi ini sedang benar-benar sekarat. Setidaknya secara individu, gue sudah bisa menyontohkan beberapa hal.

Gue inget suatu hari di tahun 2010. Saat itu sedang pertemuan relawan kampanye zero waste oleh YPBB. Agenda saat itu adalah mengenai lingkaran pengaruh relawan kampanye. Ada berbagai versi yang saya ingat saat itu. Ada beberapa relawan yang mempercayai bahwa dengan mengedukasi keluarga terlebih dahulu sehingga memiliki perilaku yang ramah lingkungan adalah yang terpenting. Alasannya? Bahwa ini menjadi bukti nyata bahwa seseorang yang mengampanyekan suatu isu bisa membuktikan perkataannya. Namun, banyak juga relawan lain yang mengamini bahwa berkampanye di luar rumah dengan orang-orang yang bahkan tidak begitu dikenal jauh lebih mudah. Gue pun ada di kelompok kedua. 

Bukannya kami-kami yang di kelompok kedua ini tidak melakukan apa-apa di lingkungan keluarga, tetapi karena kami TERLALU banyak melakukan kampanye di luar rumah, kami tidak banyak melakukan banyak hal di dalam rumah. Ralat, kami tidak punya waktu banyak di dalam rumah demi kemaslahatan orang banyak. Salah? Tidak juga. 

Secara bertahap gue menyontohkan bagaimana belanja dengan menggunakan tas pakai ulang. Kalau nyokap lagi belanja bulanan, gue sebisa mungkin ikut dan membawa beberapa tas belanja yang dibutuhkan. Begitupun saat nyokap lagi belanja kebutuhan masak sehari-hari. Bahkan, gue sudah menyimpan beberapa tas belanja yang bisa dipakai berulang kali itu di rumah. Alhamdulillahnya tas tersebut terpakai, tetapi masih belum rutin. Kalau tidak diingatkan, mereka masih lupa. 

Gue inget waktu masih kecil dulu suka ikut nyokap belanja ke luar rumah. Dulu, beliau selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang agak tebal di dalam tasnya. Ternyata kantong plastik itu dipakai untuk memasukkan kantong plastik-kantong plastik kecil hasil belanja di beberapa toko. Alasannya, "biar engga kelihatan tetangga belanja banyak barang". Selain nyokap gue yang engga suka riya, dengan begitu bawaannya engga ribet. Nah, setelah gue kasih tas belanja pakai ulang, beliau sudah meninggalkan kebiasaannya membawa kantong plastik besar itu. 

Adik gue, yang pasca lulus kuliah sempat keranjingan online shop, punya aksi juga dimana barang dagangannya dia dibungkus dengan tas kertas. Namun, belakangan gue perhatiin balik lagi pake kantong plastik. Mahal kali ya hahaha. 

Dua tahun sejak gue menjadi relawan zero waste, gue memutuskan membeli keranjang takakura. Padahal engga mahal-mahal amat, tapi belum prioritas. Dengan modal kredit tiga bulan, akhirnya gue punya keranjang takakura di rumah. Seneng banget dan antusias banget punya itu. Gue pun menunjukkan kepada anggota keluarga terkait cara pakai keranjang takakura ini. Selama beberapa bulan nyokap dan adik gue bisa memakainya, hingga suatu hari ....

Gue pulang dari kantor dan menyaksikan ada suatu tumpukan di pekarangan rumah dan perasaan gue tidak enak. Pas masuk ke rumah, gue tanya, "itu kenapa takakuranya di luar gitu?". Nyokap gue bilang kalo keranjang takakura jadi sarang tikus makanya dibuang. Dalam hati gue pengen menjerit sekenceng-kencengnya. "TIGA BULAN KREDIT DAN DUA TAHUN MEMANTAPKAN BELI KERANJANG TAKAKURA DAN SEKARANG DIBUANG BEGITU SAJA!". 

Satu hal yang gue sadari dan jadi renungan buat gue (dan mungkin juga teman-teman aktivis lainnya) adalah sekenceng-kencengnya kita koar-koar ke dunia luar terkait suatu isu, ada kegagalan (atau kebelumberhasilan) dalam dirinya sendiri. Keluarga dan sahabat yang tidak mengikuti aksinya bisa jadi "aib" yang harus diemban oleh aktivis lingkungan. Hal ini patut diakui untuk menjadi motivasi si aktivis untuk bisa selalu melakukan pelayanan sosial kepada siapapun dengan lebih baik dan bersemangat. 


Monday, 20 April 2015

Amerika dan Keadilan Lingkungan

Minggu lalu, gue dapet undangan untuk menghadiri pemutaran film dokumenter tentang keadilan lingkungan hidup di Kediaman Duta Besar Amerika Serikat (Robert Blake) di Taman Suropati. Beruntungnya gue karena bisa mengajak sahabat-sahabat buat menemani. Gue rasa, undangan ini merupakan suatu kehormatan karena bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan Duta Besar AS. 

Kalau mengajak sahabat-sahabat cewek, ada lah ya yang bikin kesel. Dina, sahabat gue yang labilnya #1, tadinya mau langsung ke lokasi acara. Eh, pas banget labilnya kumat, dia memutuskan untuk minta bareng ke lokasi. Dea, yang sudah datang dengan taksi, akhirnya menunggu di lobby mall (karena gue sudah tunggu disitu). Ada kali 20 menit menunggu Dina engga datang-datang. Waktu dia datang, dia masih memakai pakaian santai banget (padahal sebelumnya bilang mau pinjam ke temannya). Untung Dea bawa baju juga buat dipinjamkan. Hahaha. 

Intinya, kami datang telat karena si supir taksi belum membersihkan telinga (dia mengira Taman Senopati, bukan Taman Suropati). Sampai disana, Pak Dubes sedang memberikan pidato yang didampingi oleh pembuat film itu (Leah Mahan). Terus, kami diajak buat makan malam dulu. Sehabis itu, dilanjut dengan menonton film. 

Judul filmnya adalah "Come Hell or High Water - The Battle of Turkey Creek", sebuah film dokumenter karya Leah Mahan. Percaya atau tidak, film ini dibuat selama 10 tahun! Film ini menceritakan sejarah Turkey Creek, Turkey Creek ini merupakan salah satu kawasan di negara bagian Mississippi, Amerika Serikat. Film ini menceritakan bagaimana awal lokasi ini ditemukan dan kondisinya berpuluh-puluh tahun kemudian. Bisa menebak apa yang terjadi?

Derek, salah satu keturunan dari penemu dan penduduk Turkey Creek, akhirnya kembali ke sana untuk mengembalikan lagi fungsi dari Turkey Creek yang sudah dieksploitasi oleh bisnis dan industri. Lahan basah yang mendominasi Turket Creek sudah dibangun lapangan golf, apartemen, hotel, dan lain-lain sebagainya. Hal itu yang membuat Derek bersemangat untuk memperjuangkan Turkey Creek sebagaimana mestinya. 

Hal yang membuat saya tersentuh dan merasa belum melakukan apa-apa terhadap Diet Kantong Plastik adalah pada saat Derek dan warga lainnya benar-benar berjuang dan bertemu langsung dengan pemerintah, anggota dewan, dan penegak hukum untuk menyelamatkan Turkey Creek. Derek rela meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan kembali ke daerah asal untuk menyelamatkan tanah kelahirannya. Begitu besar sifat yang militansi seorang individu yang bahkan bukan merupakan aktivis lingkungan. Gue yang profesinya sebagai aktivis lingkungan masih kalah jauh. Sangat jauh dibelakang. 

Yang lebih menohok adalah Derek bukan seseorang yang memilih isu lingkungan sebagai karir. Tidak seperti gue dan beberapa teman yang memilih jalur sebagai aktivis lingkungan secara serius. Gue melihat, kedekatan Derek dengan lingkungan hidup menjadikan dirinya terintegrasi dengan lingkungan hidup itu sendiri. Begitu lingkungan hidup dia terancam bahaya, Derek dengan sigap melakukan sesuatu untuk mempertahankannya. Tak heran, kita-kita yang hidup di perkotaan yang begitu jauh lingkungan hidup (bahkan kekurangan area hijau), tidak akan pernah mengerti betapa sakitnya lingkungan hidup kita saat ini. 

Pesan yang gue dapat dari film ini adalah jika kita memperjuangkan sesuatu, khususnya untuk lingkungan hidup, harus serius dan bersemangat. Berjuang habis-habisan untuk menyelematkan lingkungan hidup dari marabahaya. Online campaign saja tidak cukup untuk membuat perubahan, imbangi dengan offline campaign. Bahkan menurutku porsi offline campaign harus lebih besar. 

Terima kasih buat Pak Blake yang sudah mengundang gue dan sahabat-sahabat pada acara ini. Menarik sekali diskusi dengan Anda. Semoga pemerintah Amerika Serikat disana mulai menyadari bahwa lingkungan hidup kita bersama sedang sakit. Jika kalian disana mengagung-agungkan keadilan hak asasi manusia, sadarlah bahwa keadilan lingkungan adalah segala-galanya. Kalian tidak akan bisa hidup dengan dokumen-dokumen hak asasi, kalian hanya bisa hidup dengan menjaga lingkungan hidup supaya seimbang dan sebagaimana mestinya. Tidak akan ada perang, jika kalian wahai negara-negara adidaya tidak memperebutkan minyak bumi. World peace means environmental peace. Be truth to yourself. Ingat, Tuhan menitipkan bumi ini untuk kita jaga, bukan dirusak. 

Sunday, 29 March 2015

Plus Minus Kampanye Pemadaman Lampu

Halo semua, sudah seminggu melewatkan #1minggu1cerita nih. Hari ini aku mau berbagi opini mengenai perayaan yang baru aku ikuti. 

Tadi malam, aku kembali mengikuti perayaan kampanye pemadaman lampu. Sepertinya sudah satu atau dua tahun aku tidak mengikuti kampanye itu. Ternyata masih sama seperti terakhir kali aku mengikuti kampanye tersebut beberapa tahun silam. Tulisanku di Kompasiana pun sempat menuai perang dingin antara aku dan teman-teman pegiat lingkungan saat itu.

Aku kembali mengikuti kampanye tersebut karena terlibat dengan salah satu pendiri Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), yaitu The Body Shop Indonesia (TBS) (merek perawatan tubuh favoritku #1). Isu yang mereka angkat di tahun ini adalah petisi #pay4plastic yang memang menjadi fokus isu GIDKP juga di tahun ini. Sebelum perayaan, kami sudah melakukan kampanye seminggu lebih awal karena berkesempatan mengumpulkan tandatangan untuk dukungan petisi lebih banyak. Ternyata tidak mudah mengajak pengunjung pusat belanja untuk mendukung petisi ini, apalagi kebijakan manajemen pusat belanja yang membatasi gerak relawan untuk mengajak pengunjung. 

Aku selalu menghindar bila ada LSM yang menyapa pejalan kaki di jembatan penyebrangan atau pengunjung pusat belanja. Bukannya sombong, tapi beberapa kali pengalaman, ujung-ujungnya diminta kesediaan untuk berdonasi. Bukannya tidak mau, asumsiku mengatakan sebaiknya tidak perlu seperti itu. Bilang saja kalau sedang melakukan program donasi. Oleh karena itu, sambil belajar dari pengalaman, aku dan relawan mencoba untuk tidak terlihat seperti meminta donasi. Hmmm, donasi dalam bentuk tandatangan yang kami butuhkan. Nyatanya, pengunjung mall masih belum banyak yang bersedia memberikan dukungan dalam bentuk tanda tangan saja.

Oke, aku terlalu banyak bercerita tentang hal di atas. Mari kembali ke judul. 

Tak dipungkiri memang kita bukan makhluk yang sempurna. Ada saja minus sana-sini, tapi jangan lupakan pula nilai plus kita. Seperti tadi malam, aku kembali dihantui pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab dan hanya akan menjadi asumsi pribadi saja, juga sindiran-sindiran yang tersirat di kepala. 

Seperti terakhir kali aku menjadi bagian dari kampanye ini, aku tidak habis pikir dalam beberapa hal. Mari aku ajak kalian membaca isi kepalaku tentang kampanye tadi malam. 

Aku masih bertanya-tanya mengenai kampanye ini. Di satu sisi, ada ajakan untuk memadamkan lampu  (dan juga alat elektronik lainnya) yang tidak diperlukan. Namun, di sisi lain, ada aktivitas yang menggunakan cukup banyak energi listrik tak terbarukan. Tadi malam, untuk pertama kalinya merayakan kampanye tersebut di Jakarta dan di dalam pusat belanja. Terima kasih kepada pihak pusat belanja yang telah memadamkan lampu-lampu sentral dan beberapa lampu lainnya. Namun sepertinya selebrasi di panggung dengan lampu sorot, sound system yang menggelegar, tidak diperlukan. Mungkin biar gebyar. Tidakkah kalian perhatikan bahwa selebritis-selebritis yang kalian bayar tidak terlihat tertarik dan antusias? Bahkan salah satu artis yang saya kenal tidak diberitahu dan diingatkan oleh panitia terkait lokasi acara. 

Di belahan kota lain, aku lihat di linimasa daring, ternyata masih saja kecolongan. Aku tidak akan komentar banyak karena hanya ini yang aku ketahui. Sepertinya sempat ramai juga di kampanye lain beberapa bulan yang lalu, bahwa selebrasi dengan menerbangkan sesuatu itu akan berdampak negatif nantinya. Suatu saat, balon yang diterbangkan, spanduk yang diterbangkan, atau bahkan lampion-lampion yang diterbangkan akan kembali lagi ke daratan. Kita engga pernah tau dimana mereka akan jatuh. Di atap rumah? di pohon? tepat jatuh di TPA? atau mungkin di sungai, selokan, mengenai hewan, atau tempat-tempat lainnya yang perlu dijaga dari sampah. 

Ada satu tulisan kampanye pada fashion show yang digelar oleh Greenpeace di Rancaekek beberapa waktu lalu mengenai industri tekstil yang mencemari sungai. "Beauty fashion shouldn't cost the earth". Kalau boleh aku mengutip dan sedikit mengubah kata, aku akan bilang, "Environmental celebration shouldn't cost the earth".

Kabar baiknya adalah, dengan kampanye pemadaman lampu ini, banyak masyarakat mulai peduli dengan isu-isu lingkungan. Bahkan, artis-artis sekarang ikutan juga kampanye lingkungan. Salut juga untuk pemerintah kota tempat saya dilahirkan yang berhasil diadvokasi oleh kampanye ini sehingga bisa menjadi kebijakan. Tinggal kita tunggu saja kapan menjadi perilaku sehari-hari dan kebiasaan yang otomatis dilakukan. 

Terkadang aktivis lingkungan juga belum paham isu keberlanjutan. Maklumi saja lah kami-kami ini, kebanyakan kampanye masih fokus pada peningkatan kesadaran masyarakat. Ingatkan kami, ya!

*Terima kasih kepada semua pihak dan selebritis yang mengajak untuk mengurangi penggunaan kantong plastik lebih banyak daripada ajakan hemat listrik.