Showing posts with label kampanye. Show all posts
Showing posts with label kampanye. Show all posts

Sunday, 24 May 2015

Seberapa militankah Anda?

Akhir-akhir ini gue diganggu dengan kata "militan". Apa sih "militan" itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang diterbitkan Balai Pustaka; bisa diakses daring di http://kbbi.web.id/,

militan /mi·li·tan/ (adjektiva) bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras: untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang -- dan penuh pengabdian

Sudut pandang gue memaknai istilah "militan" ini adalah suatu sifat dalam diri manusia yang sangat bergelora dalam mendorong sesuatu. Konteks dalam tulisan yang kali ini gue angkat adalah militansi dalam kampanye lingkungan. Menurut KBBI, 

militansi/mi·li·tan·si/ (kata benda) ketangguhan dl berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb): kaum wanita harus mempunyai -- dalam ber-juang membangun masyarakat


Jika dihitung-hitung, gue menekuni kampanye lingkungan sudah tiga tahun lamanya. Usia yang masih terlalu muda untuk disebut sebagai sebuah konsistensi. Namun, kepada diri sendiri ini merupakan sebuah pembuktian terhadap panggilan hati. Bahkan sudah berani berkomitmen bahwa jalan inilah yang akan ditempuh selama menjadi manusia di bumi ini. 

Berkaitan dengan istilah "militan" di atas, gue mau mencoba mengangkat fenomena militansi kampanye-kampanye lingkungan (termasuk orang-orang di dalamnya yang menggerakkan, bukan hanya organisasinya saja) di kelompok pemuda. Mengapa? Karena dalam 5 tahun terakhir, gue perhatikan cukup banyak kampanye lingkungan yang dimotori anak muda dan cukup populer di kalangan masyarakat. Tidak semuanya militan, tidak semuanya berkontribusi kepada masyarakat secara berkelanjutan. Bahkan, ada beberapa penggeraknya pun terlihat seperti menjalankan "tugas kepemudaan" pada usianya tersebut. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sudah meninggalkan dunia kampanyenya itu tidak meneruskan perilaku gaya hidup ramah lingkungan yang dulu digembar-gemborkan. Di tulisan gue beberapa bulan lalu, pernah menyebutkan bahwa isu ingkungan sangat seksi untuk dijadikan bahan jualan. Bisa jadi, karena keseksian inilah yang menyebabkan tidak banyak organisasi lingkungan saat ini yang jauh dari kata militan. Bahkan untuk organisasi yang sedang gue jalankan saat ini. 

Gue makin merasa malu saat menonton film dokumenter "Come Hell or High Water - The Battle of Turkey Creek", sebuah film dokumenter karya Leah Mahan, beberapa waktu lalu saat diundang Duta Besar Robert Blake. Film tersebut mengangkat kisah Derrick (ada kesalahan penulisan nama di tulisan Amerika dan Keadilan Lingkungan) yang memperjuangkan daerah tempat tinggalnya yang terancam alih fungsi lahan. Derrick berani meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang guru untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak milik penduduk Turkey Creek. Bayangkan, selama 10 tahun Derrick berjuang untuk menyelamatkan lahan Turkey Creek agar tidak dialih fungsikan! Selama 10 tahun itu dia mengumpulkan keluarga, teman-teman semasa kecil, dan warga lainnya untuk bersama-sama menyelamatkan tempat tinggalnya tersebut. Bolak balik melakukan advokasi kepada pemerintah, melakukan beberapa aksi demonstrasi, dan lain-lain sebagainya. Hingga saat ini pun, Derrick masih memiliki komitmen terhadap Turkey Creek. 

Mari berbicara kampanye lingkungan masa kini...

Gue engga akan menyalahkan siapa-siapa, karena mungkin tren untuk melakukan kampanye lingkungan yang digerakkan oleh anak muda saat ini berbeda. Meski anak muda memiliki semangat yang sangat tinggi, kami, anak-anak muda, pilih-pilih dulu mana yang paling engga membuat lelah. Maka dari itu, kami memilih media sosial untuk melakukan kampanye. Gue menggunakan "kami" karena di satu sisi masih menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarluaskan kampanye. Namun, jangan sesekali mengeneralisir kondisi seperti di atas. Banyak juga anak muda lainnya yang bahkan memilih jalan yang lebih militan. Bahkan militan dalam mendapatkan gelar tertentu. LOL. 

Era digital saat ini, sadar atau tidak, menimbulkan dampak negatif dan positif terhadap kita sebagai pengguna. Bagi kampanye lingkungan, pemanfaatan media digital terlebih lagi media sosial dapat membantu makin meluaskan isu lingkungan sehingga kesadaran dan kepedulian masyarakat bisa meningkat. Meski, ada beberapa oknum yang memanfaatkan media digital ini sebagai arena narsisme yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan kampanye lingkungan. Sesuai skenario atau sesuai panggilan hati, tidak diketahui secara pasti alasannya kecuali kita mengenal orang tersebut. 

Bahkan, orang-orang dengan sifat "militan"-nya berjuang mendapatkan gelar sebagai duta lingkungan dimanapun yang akan lebih dikenal dan dipercayai ketimbang aktivis lingkungan yang sudah puluhan tahun berjuang. 

Gue sendiri yang baru tiga tahun berkecimpung di kampanye lingkungan merasa belum melakukan sesuatu yang besar dalam melakukan perubahan berarti untuk keselamatan lingkungan. Gue kampanye lingkungan ke sekolah, ke tempat-tempat publik lainnya, di media sosial, dan lain-lain, tetapi kantong plastik tetap banyak digunakan. Militansi seperti apa yang dibutuhkan?

Gue menulis tulisan ini pun tidak akan berarti apa-apa jika gue tidak melakukan apa yang gue ungkapkan disini. Kita semua TIDAK hidup di dunia digital, tetapi hidup yang serba dilengkapi alat-alat digital. Kita ini makhluk yang nyata dan hidup di bumi yang nyata pula. Kita bisa lihat bahwa kerusakan lingkungan terjadi NYATA di depan mata kita. Bohong kalau ada yang tidak pernah mengalami kerusakan lingkungan. Perilaku membuang sampah sembarangan, menggunakan produk-produk yang memiliki kemasan sekali pakai, membakar sampah, dan lain-lain sebagainya adalah perilaku pemicu kerusakan lingkungan. Memang kita tidak sadar bahwa kita sendiri yang melakukan kerusakan lingkungan. 

Ada beberapa aktivis lingkungan yang gue kenal termasuk aktivis yang militan. Bahkan beberapanya membangun organisasi sendiri dan memiliki konsistensi yang yahud. Komitmennya pun tidak perlu diragukan lagi. Coba kamu bayangkan, ada lho yang tidak pernah membeli pakaian bertahun-tahun lamanya karena paham keberlanjutan yang beliau anut. Bahkan, ada yang mengesampingkan urusan pribadinya demi kemaslahatan orang banyak. 

Bukan pegiat lingkungan atau aktivis lingkungan atau menyebut dirinya seseorang yang peduli lingkungan kalau belum turun ke lapangan. Aktivis sosial media hanyalah buzzer yang tugasnya mengiklankan sesuatu. Aktivis lingkungan harus membuat perubahan berarti dan ada di lapangan, bukan di Twitter. Apa artinya kamu sering-sering kampanye di media sosial tapi perilaku kamu sendiri dalam isu lingkungan tidak ada? Lingkungan hidup tidak membutuhkan orang-orang dengan kemampuan lip-service yang mahir. Sama sekali tidak. Lingkungan hidup membutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen tinggi dan konsisten dalam melakukan perubahan-perubahan NYATA dalam menyelamatkan kondisi lingkungan hidup. 

Tidak ada yang instan di dunia ini. Kita hadir di dunia ini pun melalui proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Proses menjadi lebih baik adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Namun, kata "proses" jangan dijadikan alasan kalau tidak dibuktikan. Lagi-lagi, lingkungan hidup dan bumi tidak butuh orang dengan kemampuan lip-service. Banyak cara untuk menjadi aktivis lingkungan yang militan. Militan bukan berarti demo terus menerus atau cenderung anarkis. Namun, berkomitmen dalam melakukan perubahan-perubahan berarti dalam menyelamatkan lingkungan hidup dengan konsisten. Bukankah Tuhan menciptakan kita di dunia untuk menjaga bumi beserta isinya? 

Jika kamu ingin mulai bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan lingkungan, silahkan telusuri 8 kampanye pilihan gue, pilih dan ikuti kegiatannya yang sesuai dengan panggilan hati (penulisan angka bukan menunjukkan peringkat):




Sunday, 17 May 2015

The Successful Campaign is Yet to Come

Akhir-akhir ini, gue menyadari bahwa salah satu kegagalan seorang aktivis adalah belum bisa mengajak keluarga dan sahabat terdekat untuk melakukan apa yang kita kampanyekan. Ini opini gue setelah mengamati diri gue dan beberapa teman sesama aktivis. Bisa terjadi pada aktivis lain, bisa juga tidak. Belum dilakukan penelitian yang cukup komprehensif untuk membuktikan ini secara ilmiah. 

Sebenernya sudah dari kecil gue dekat dengan isu lingkungan. Nyokap adalah penyayang tanaman. Banyak tanaman di rumah yang dirawat, diperlakukan sama seperti anaknya. Tiap pagi dan sore beliau siram. Bokap sendiri adalah konsultan lingkungan di bidang konservasi hutan. Keahliannya adalah Geographic Information System. Jadi, engga heran gue terjebak menjadi Sarjana Pertanian. Secara tidak langsung, dari kecil, alam bawah sadar gue menerima rangsangan-rangsangan itu dari kehidupan sehari-hari dan pengaruh orang tua. Tidak menjadi kebetulan juga bahwa saat ini gue memilih menjadi aktivis lingkungan. 

*kemampuan gue dalam menganalisis suatu kondisi, bisa membuat gue menyimpulkan ini fufufufufu*

Sudah tiga tahun gue mengampanyekan gaya hidup nol sampah dan diet kantong plastik. Untuk diri sendiri, gue merasakan perubahan yang terjadi. Dari yang tadinya suka minta kantong plastik kalau jajan ke warung atau minimarket, dari yang tadinya suka beli makanan berat yang dibungkus, dari yang tadinya selalu membeli air minum dalam kemasan plastik sekali pakai, dari yang tadinya ini itu, sekarang sudah mulai bisa ditekan. Sejak menjadi tahu tentang pentingnya gaya hidup nol sampah, sejak tahu konsep keberlanjutan, dan sejak memutuskan untuk mengabdikan diri dalam kampanye diet kantong plastik, ada tuntutan dalam diri sendiri untuk mencontohkan kepada orang lain bahwa perilaku seperti itu di atas tidaklah bijak dan perlu mengambil aksi yang nyata untuk menyelamatkan bumi ini sedang benar-benar sekarat. Setidaknya secara individu, gue sudah bisa menyontohkan beberapa hal.

Gue inget suatu hari di tahun 2010. Saat itu sedang pertemuan relawan kampanye zero waste oleh YPBB. Agenda saat itu adalah mengenai lingkaran pengaruh relawan kampanye. Ada berbagai versi yang saya ingat saat itu. Ada beberapa relawan yang mempercayai bahwa dengan mengedukasi keluarga terlebih dahulu sehingga memiliki perilaku yang ramah lingkungan adalah yang terpenting. Alasannya? Bahwa ini menjadi bukti nyata bahwa seseorang yang mengampanyekan suatu isu bisa membuktikan perkataannya. Namun, banyak juga relawan lain yang mengamini bahwa berkampanye di luar rumah dengan orang-orang yang bahkan tidak begitu dikenal jauh lebih mudah. Gue pun ada di kelompok kedua. 

Bukannya kami-kami yang di kelompok kedua ini tidak melakukan apa-apa di lingkungan keluarga, tetapi karena kami TERLALU banyak melakukan kampanye di luar rumah, kami tidak banyak melakukan banyak hal di dalam rumah. Ralat, kami tidak punya waktu banyak di dalam rumah demi kemaslahatan orang banyak. Salah? Tidak juga. 

Secara bertahap gue menyontohkan bagaimana belanja dengan menggunakan tas pakai ulang. Kalau nyokap lagi belanja bulanan, gue sebisa mungkin ikut dan membawa beberapa tas belanja yang dibutuhkan. Begitupun saat nyokap lagi belanja kebutuhan masak sehari-hari. Bahkan, gue sudah menyimpan beberapa tas belanja yang bisa dipakai berulang kali itu di rumah. Alhamdulillahnya tas tersebut terpakai, tetapi masih belum rutin. Kalau tidak diingatkan, mereka masih lupa. 

Gue inget waktu masih kecil dulu suka ikut nyokap belanja ke luar rumah. Dulu, beliau selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang agak tebal di dalam tasnya. Ternyata kantong plastik itu dipakai untuk memasukkan kantong plastik-kantong plastik kecil hasil belanja di beberapa toko. Alasannya, "biar engga kelihatan tetangga belanja banyak barang". Selain nyokap gue yang engga suka riya, dengan begitu bawaannya engga ribet. Nah, setelah gue kasih tas belanja pakai ulang, beliau sudah meninggalkan kebiasaannya membawa kantong plastik besar itu. 

Adik gue, yang pasca lulus kuliah sempat keranjingan online shop, punya aksi juga dimana barang dagangannya dia dibungkus dengan tas kertas. Namun, belakangan gue perhatiin balik lagi pake kantong plastik. Mahal kali ya hahaha. 

Dua tahun sejak gue menjadi relawan zero waste, gue memutuskan membeli keranjang takakura. Padahal engga mahal-mahal amat, tapi belum prioritas. Dengan modal kredit tiga bulan, akhirnya gue punya keranjang takakura di rumah. Seneng banget dan antusias banget punya itu. Gue pun menunjukkan kepada anggota keluarga terkait cara pakai keranjang takakura ini. Selama beberapa bulan nyokap dan adik gue bisa memakainya, hingga suatu hari ....

Gue pulang dari kantor dan menyaksikan ada suatu tumpukan di pekarangan rumah dan perasaan gue tidak enak. Pas masuk ke rumah, gue tanya, "itu kenapa takakuranya di luar gitu?". Nyokap gue bilang kalo keranjang takakura jadi sarang tikus makanya dibuang. Dalam hati gue pengen menjerit sekenceng-kencengnya. "TIGA BULAN KREDIT DAN DUA TAHUN MEMANTAPKAN BELI KERANJANG TAKAKURA DAN SEKARANG DIBUANG BEGITU SAJA!". 

Satu hal yang gue sadari dan jadi renungan buat gue (dan mungkin juga teman-teman aktivis lainnya) adalah sekenceng-kencengnya kita koar-koar ke dunia luar terkait suatu isu, ada kegagalan (atau kebelumberhasilan) dalam dirinya sendiri. Keluarga dan sahabat yang tidak mengikuti aksinya bisa jadi "aib" yang harus diemban oleh aktivis lingkungan. Hal ini patut diakui untuk menjadi motivasi si aktivis untuk bisa selalu melakukan pelayanan sosial kepada siapapun dengan lebih baik dan bersemangat.