Friday, 18 July 2014

Do it in your way! - Episode 2

Saat itu aku mendaftar Nutrifood Leadership Award tahun 2011. Lolos seleksi adminstrasi dan harus mengikuti audisi yang bertepatan dengan Konferensi Tunza. Jadi aku bolos seminar satu sesi hanya untuk mengikuti audisi yang mana aku tidak lolos. Kenapa aku bisa tidak lolos padahal pengalaman organisasiku cukup untuk menjadi bekal? I didn’t lip service and promoting myself about my achievement. Aku semacam tidak suka untuk pamer pencapaian diri sendiri di depan orang banyak. Aku tidak sebegitu kerennya sampai harus promosi diriku yang pernah menjabat ini itu. Sementara itu, mereka yang pamer kedudukan dan jabatan itu terpilih untuk menuju tahap audisi selanjutnya. Kemudian aku kembali ke Konferensi Tunza dan menyelesaikan tugasku sebagai peserta terpilih disana. 


Saat itu, aku bersama temanku yang tidak lolos juga (padahal kami berdua sama-sama pernah menjabat sebagai ketua IAAS LC Unpad) membicarakan hal apa sih yang membuat kita tidak lolos. Kita saat itu mengkritisi sesuai idealisme dan nilai yang kami yakini saja. Masih cukup naïf, well, we did it when we are young, huh?


Tak cukup berhenti hingga disana, aku masih penasaran dengan kompetisi. Apa sih sebenernya yang harus dilakukan?


Saat itu pendaftaran HiLo Green Ambassador 2012 sedang dibuka. Dengan bekal pengetahuanku yang cukup tentang lingkungan, aku cukup percaya diri untuk mengisi pendaftaran secara online. Bahkan saat itu aku mengunggah foto ala kadarnya saat ada aktivitas berkebun (bukan foto studio, untungnya foto itu seluruh badan!). Hahahaha. Eh…ternyata aku dikabari untuk mengikuti audisi yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2012. 

Foto yang aku kirim untuk mendaftar HiLo Green Ambassador 2012. Beneran gak niat 'kan? Haha (Dok.Rahyang Nusantara, 2011)


----


Berminggu-minggu aku masih belum bisa memutuskan apakah aku akan mengikuti audisi atau Apple Day. Tahun 2012 adalah tahun pertamaku bergabung dengan Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika dalam rangka Hari Ulang Tahun Konperensi Asia Afrika. Karena bertepatan dengan Hari Bumi, maka aku dan teman-teman (saat itu atas nama Asia Africa Youth Forum) membawa program Apple Day, menukar botol plastik bekas dengan apel lokal. Sampai pada akhirnya, aku lebih memilih Apple Day dengan pertimbangan kegiatan ini  kampanye langsung yang melibatkan publik dalam rangka Hari Bumi tepat di hari Minggu dan aku suka banget dengan sejarah Konperensi Asia Afrika ketimbang mengikuti audisi. Bagiku, menjadi inspirasi lingkungan tidak perlu berkompetisi kan? Masalah lingkungan nyata berada di depan kita dan sebaiknya kita ambil peran untuk mengatasi permasalahan itu. Kita semua seharusnya menjadi duta lingkungan. 


Apple Day pertama tahun 2012. Di tahun 2013 pun ada lagi lho Apple Day. (Dok. Asia Africa Youth Forum, 2012)


Entah karena pengaruh penelitian ilmiah sewaktu mengerjakan skripsi dulu atau memang sudah menjadi keyakinan di dalam diriku, aku selalu percaya bahwa hal yang dilakukan tiga kali berturut-turut dengan hasil yang sama/seragam akan selalu menghasilkan pola yang sama di hal selanjutnya. Seperti halnya penelitian, dengan melakukan tiga kali ulangan, maka hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Cukup aneh memang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, tapi itulah yang menjadi batasanku.


Dua kali gagal melenggang menuju kepopuleran duniawi, tak membuatku menyerah. Aku pengen membuktikan sekali lagi hipotesis aku di atas. Jika kali ketiga ini aku gagal, berarti aku memang bukan mafia kompetisi. 


----


Aku selalu penasaran dengan dunia pageant. Bahasa Indonesia-nya apa ya? Kontes kecantikan? Kenapa aku penasaran, karena aku terkadang tergelitik dengan fungsi pemenang kontes itu untuk apa. Di beberapa acara yang aku datangi mereka biasanya hanya jadi pemanis saja. Menyambut tamu undangan, pembawa nampan berisi pemukul gong pembuka acara (ini lucu sih, pernah aku lihat di salah satu acara negara), atau hanya mendampingi tamu VVIP. Jarang banget aku lihat mereka menjadi inspirasi tentang suatu perubahan yang dilakukannya secara nyata. Jahatnya, aku pengen tahu seberapa pintar sih mereka terhadap fenomena sosial yang kita hadapi sehari-hari. 


Sebagai pemuda yang ber-KTP Kabupaten Bandung Barat, aku akhirnya mengikuti audisi Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Bandung Barat. Aku sadar sesadar-sadarnya bentuk badanku yang lebar, bentuk hidung asimetris, wajah berminyak dan berjerawat dan tidak tampan ini tidak akan membuatku masuk menjadi finalis, tetapi karena tujuanku hanya ingin tahu “daleman”-nya kontes beginian seperti apa, akhirnya aku daftar. Tahap pertama adalah pengumpulan berkas administrasi. Lolos. Semua yang daftar lolos. Oke, baiklah. Not impressed at all


Tahap selanjutnya adalah tes tulisan dan lisan. Well, mereka bilangnya sih wawancara, tapi hal itu terlihat seperti tes. Informasi dari panitia adalah akan ada seleksi dari tes ini untuk audisi unjuk kabisa (unjuk bakat), tapi ternyata sebelum kita pulang mereka mengoreksi informasi itu. Semua yang ikut audisi tetap mengikuti unjuk kabisa. Oke, baiklah. 


For God’s sake, I’m bad in art performing! Mau tahu apa yang aku lakukan? Story telling dengan menggunakan wayang golek (Semar dan Cepot) dengan isu sampah. Tetep ya isunya itu. Dan apa yang terjadi? I ruined everything. Badan dan kepala si Cepot ke balik-balik dan spontan aku nyeletuk ga jelas karena gugup menyadari kesalahan itu. Karena itu, aku menjadi tidak fokus dan itu membuatku tidak lolos menjadi finalis. Jangan sedih, ada satu peserta audisi yang mempertunjukkan bakat nyinden yang paling bagus pun tidak lolos. Selain faktor fisik, mungkin faktor lip service saat tes lisan itu juga berpengaruh. 


H = 0. Hipotesis diterima. Perlu penelitian lanjutan yang membuktikan apakah persiapan mati-matian dan tetek bengek ini itu juga berpengaruh. Namun, aku lebih yakin (I’m a sensing person) bahwa kita punya jalan masing-masing untuk menjadi “seseorang”. Tidak semua orang cocok untuk mengikuti kompetisi, tidak semua orang pun cocok untuk merintis sendiri menjadi “seseorang”. Kenapa penting banget sih menjadi “seseorang”? Memang maksudnya “seseorang” ini apa? 


Bersambung….



Referensi:




2 comments:

Raira Megumi said...

aduuuuh kasian banget sih ang...but I do really like your story, don't give up...I tried 6 times to pass CPNS tes and finally got it.lol

Rahyang Nusantara said...

Heheheh. Share your story too