Sunday, 18 September 2011

PARJUR 2011 - Jangan Kalah Dengan Yang Lebih Tua, Hey Pemuda!

Kondisi lingkungan di bumi ini semakin mengkhawatirkan. Betapa tidak, lapisan ozon yang berada di atmosfer mengalami kerusakan yang cukup berarti pada beberapa dekade terakhir. National Geographic Indonesia menyebutkan bahwa separuh lapisan ozon pada ketinggian 20 kilometer telah mengalami kerusakan hanya dalam jangka waktu satu minggu. Hal yang mengejutkan kita bahwa lapisan ozon memberikan begitu banyak manfaat bagi kehidupan manusia di planet bumi ini. Salah satu manfaat lapisan ozon adalah untuk melindungi manusia dari paparan sinar matahari secara ekstrim.

Kerusakan ozon terjadi disebabkan chlorofluorocarbons (CFC) yang berubah menjadi zat agresif serta merusak ozon ketika terpapar udara yang sangat dingin. Para ilmuwan mengaitkan fenomena kerusakan ozon dengan perubahan iklim, terutama ketika musim dingin lalu temperatur udara terasa lebih dingin yang menyebabkan kerusakan yang lebih parah pada lapisan ozon. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, kebijakan lingkungan internasional diberlakukan, yang disebut Protokol Montreal yang berisi bahwa penggunaan bahan berbahaya CFC di larang di seluruh dunia mulai tahun 1987.

Namun, jika manusia di planet bumi ini tidak menyadari perubahan iklim yang terjadi, kebijakan internasional tersebut hanyalah akan menjadi kebijakan tak berguna semata. Kita, manusia sebagai subjek utama di bumi ini, harus menyadari dan peduli terhadap lingkungan kita ini. Bukan karena sebuah kebijakan, tetapi karena kesadaran diri sendiri. Hal itu harus dimulai dari sekarang!

Sepuluh tahun yang lalu, di Kota Bandung, berdiri sebuah lembaga independen yang didirikan oleh para sesepuh, masyarakat adat, organisasi rakyat, perwakilan masyarakat, LSM, perguruan tinggi, mahasiswa, budayawan dan seniman, serta perorangan, yang bertujuan dalam hal pelestarian hutan dan mutu lingkungan hidup serta pendampingan masyarakat desa. Lembaga tersebut bernama DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda). Lembaga tersebut sudah banyak melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan dan salah satu yang dikenal adalah "OBRASS (Obrol Santai Selasa Sore)". 

Menurut saya, lembaga ini unik dan inspiratif. Pengurus lembaga ini bukanlah pelajar, mahasiswa, atau pemuda-pemuda pada umumnya, melainkan adalah para senior-senior atau sesepuh yang masih semangat dalam usaha pelestarian lingkungan. Sungguh menakjubkan. Dibalik usia mereka yang sudah tidak bisa dikatakan lagi muda, tetapi semangat mereka jauh lebih besar dibandingkan para pemudanya sendiri. 

Pengurus DPKLTS saat Milangkala ke-10 DPKLTS minggu lalu
(Sumber foto : Facebook DPKLTS)

Bandingkan dengan semangat pemuda masa kini yang sangat dimanjakan oleh segala macam fasilitas yang serba instan. Padahal, masyarakat meyakini bahwa pemuda merupakan agen pengubah yang bisa mewujudkan impian mereka akan negara dan lingkungan yang lebih baik untuk masa depan. Pemuda dinilai lebih kritis dan memiliki semangat pergerakan yang dahsyat. Masih ingat dengan organisasi Budi Utomo? Saat itu Dr.Sutomo dan para mahasiswa STOVIA mendirikan Budi Utomo yang menjadi awal pergerakan dengan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Saat itu semangat juang para pemuda Indonesia begitu kuat demi mencapai kemerdekaan bangsa.

Sekarang, Indonesia sudah merdeka dari kolonialisme. Apakah sekarang kita sudah benar-benar "merdeka" dalam semua aspek? Sepertinya belum. Kita, sebagai pemuda, terlalu sibuk mengurusi kepentingan pribadi dibanding peduli terhadap pelestarian lingkungan. Artinya, masyarakat belum me-"merdeka"-kan lingkungan sekitar kita yang makin hari makin tidak terjaga. Hal ini benar atau tidak, kita sendiri yang bisa menjawabnya. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2005-2025 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa jumlah pemuda umur 15-35 tahun pada tahun 2011 mencapai 62,92 juta jiwa atau sekitar 31,46% dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini bisa merupakan suatu potensi yang luar biasa atau mungkin menjadi bencana apabila tidak dipersiapkan dengan baik.

Era internet pada zaman sekarang, seharusnya bisa mendorong para pemuda untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas instan ini secara bijak. Pendekatan dalam ilmu komunikasi zaman sekarang terhadap new media sudah mulai disorot dan diteliti lebih dalam menuju resolusi peradaban yang lebih maju. Siapa tak kenal Facebook, Twitter, Blogger, dan fasilitas social media lain. Produk-produk tersebut tak lepas dari peran pemuda di balik kesuksesannya. Kitapun sebagai pengguna tidak boleh kalah semangat dalam memanfaatkan fasilitas tersebut untuk melakukan hal yang bermanfaat, salah satunya terhadap pelestarian lingkungan.

Pemuda Kota Bandung bersama Pak Iban,pejuang lingkungan, saat kampanye di kawansan Car Free Day Dago
(Sumber foto: Dokumentasi HiLo Green Ambassador)

Lebih jauh mengenai new media, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Unpad akan menggelar seminar dengan judul "The Ethics of Journalism:Past and Present" pada tanggal 24 September 2011. Informasi lebih lanjut bisa dibaca disini.

Menghadapi krisis pemanasan global, pemuda dituntut untuk melakukan gerakan nyata yang sudah pasti bermanfaat bagi masyarakat. Perubahan iklim adalah nyata di depan kita, bukan isu belaka. Saatnya pemuda bergerak bersama-sama demi terciptanya masa depan yang cerah demi generasi selanjutnya. Semangat para sesepuh dan senior-senior kita harus dijadikan teladan bagi kita dan memotivasi kita untuk lebih bersemangat dalam melestarikan lingkungan. Hidup Pemuda Indonesia!

Supported by:

8 comments:

Galuh Parantri said...

:)
Silakan cek Postinganmu sudah naik di @VIVAnews http://ureport.vivanews.com/news/read/248046-jangan-kalah-dengan-yang-lebih-tua

Untuk teman-teman lain, ayo buruan ditunggu lho postingan blognya

Admin #Vlog @VIVAnews

Rahyang Nusantara said...

wow! makasih :D

Laila Mega said...

mulai dari diri kita...if you wanna change the world a better place. take a look at yourself then make a change...

Rahyang Nusantara said...

silih asah, silih asih, silih asuh. Mun lain urang, saha deui nu ngajaga Bandung teh

celiniac said...

WOWWW !!

asaz said...

laju kerusakan lingkungan dipercepat oleh urbanisasi seperti yang dibahas di artikel berikutok ditunggu coment bactnya di link artikenya ini

dhiya maryam said...

nice....
pokoknya mantab dah..
selamat ya.. :)

emingko said...

benar yg mudah hrus lbh kretif dg smngt tinggi...
jgn lupa mampir ke eMingko Blog