Monday, 3 October 2011

5 Dosa Ekologis Penyelenggara Acara

Pemuda identik dengan kreatifitasnya dalam menyelenggarakan sebuah acara. Baik itu konser, seminar, pelatihan, maupun pameran. Hal ini tidak terlepas dengan kesalahan-kesalahan dalam penyelenggaraan acara tersebut terhadap kondisi ekologis. Disadari atau tidak, hal-hal sepele akan berdampak besar terhadap keberlangsungan lingkungan. Berikut 5 dosa ekologis versi pribadi yang sering dijumpai dari berbagai acara.

1. Makanan dalam kotak
Zaman sekarang manusia diberi kemudahan luar biasa. Banyak bermunculan acara-acara yang panitianya tidak mau direpotkan untuk membersihkan tempat sisa-sisa makanan. Maka muncullah kebiasaan menggunakan kotak kardus atau bahkan styrofoam untuk membungkusnya. Namun, penggunaan barang ini jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi sampah.


2. Botol plastik
Seperti yang kita ketahui botol plastik tidak bisa dipakai ulang untuk minum dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa hancur oleh alam. Panitia dalam sebuah acara lebih memilih untuk menyediakan botol plastik supaya bisa dibawa-bawa dan tidak perlu repot menyediakan gelas kaca. Masih bisa dimengerti jika botol plastik itu disimpan dengan baik, tetapi bila dibuang sembarangan juga tidak bisa dimaafkan. Lagi-lagi hal ini karena kesalah pola pikir ekologis.


3. Tissue dan gelas plastik
Tissu di Indonesia terbuat dari kayu yang berasal dari pohon akasia dan eucalyptus. Menurut World Watch, ada sekitar 27.000 pohon ditebang untuk membuat tissue setiap harinya di seluruh dunia. Deforestrasi sudah begitu maraknya terjadi dan harus segera dihentikan. Hutan merupakan paru-paru dunia. Seperti halnya fungsi paru-paru, juga hutan terus ditebang, manusia akan kekurangan oksigen. Gelas plastik, sama halnya dengan botol plastik. Baik tissue maupun gelas plastik disediakan untuk kemudahan si penyelenggara acara, karena tidak mau repot membersihkan. Kesalahan pola pikir lainnya. 


4. Hal-hal tidak penting
Banyak hal-hal tidak penting lainnya yang disediakan oleh penyelenggara acara. Entah itu notes untuk catatan yang dibagikan secara gratis, tempat duduk dari kardus, atau bahkan hal-hal lain yang dianggap tidak penting.





5. Trash bag
Terakhir, trash bag. Niatnya untuk nyimpen sampah dari barang-barang diatas tadi dan area acara bersih dari yang namanya sampah. Namun, di belahan area yang lain, akibat sampah-sampah dalam trash bag ini, terjadi "bukit" sampah yang mengganggu kondisi ekologis orang-orang yang tinggal di daerah pembuangan sampah akhir. 


Mulai dari sekarang, kita sebagai penyelenggara acara sepertinya sudah harus memikirkan bagaimana acara kita tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Selain untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan atau zero waste lifestyle, hal seperti ini juga mendukung isu sekarang mengenai green economy and sustainable lifestyle.

5 comments:

Anindya Roswita said...

iya kak! setuju banget nih :O

masihbingung said...

"Mulai dari sekarang, kita sebagai penyelenggara acara sepertinya sudah harus memikirkan bagaimana acara kita tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan."

ya bagaimana?? botol plastik diganti apa, tisu diganti apa, di artikel blm ngasih solusinya nih

ohh mgkn suruh pikir sndiri ya

Hafif said...

izin share ya pa..

Fredy Estofany said...

mohon izin share. Salam gizi.

Rahyang Nusantara said...

Silahkan :)

Solusinya ada disekitar kota bahkan...

Botol plastik diganti dengan gelas, sehari2 kita gunakan ini. Lebih aman

Tissue ganti dengan serbet, bisa dipakai ulang.

Investasi diawal memang cukup mahal. Tapi biaya lingkungan bisa ditekan :)