Thursday, 7 August 2014

My Job, My Joy – Episode 1

“Udah lulus nanti kamu mau kerja dimana?”

“Di bidang lingkungan, Pak”
               
“Iya, apa?”

“Belum tahu, Pak”

Diskusi siang itu dengan teman ayahku, saat aku sempat mengunjungi Samarinda untuk penelitian skripsiku yang akhirnya tidak jadi, selalu terngiang hingga saat ini. Semacam shock theraphy yang memaksa saya harus memikirkan hal itu.

“Seharusnya kamu sudah tahu mau kerja dimana meski belum lulus, dirintis dari sekarang”

Obrolan siang itu masuk ke dalam alam bawah sadarku.

--

Seringkali dalam hidup kita, sejak kecil bahkan, kita selalu ditanya apa cita-cita kita. Cita-cita yang selalu ditanya saat kita kecil itu identik dengan pekerjaan saat dewasa nanti. Aku ingat sekali bahwa dulu aku selalu menyebut “Aku ingin menjadi insinyur pertanian”. And it happened! Gelarnya sih iya, pekerjaannya mah engga. But at least I reached my ideal. Hal itu terjadi begitu saja, sudah secara otomatis dilakukan oleh alam bawah sadarku dan juga, mungkin, takdir. Meski saat itu memilih Fakultar Pertanian adalah pilihan nomor dua dan akupun tidak sebegitu seriusnya dalam melaksanakan perkuliahan, malah lebih sibuk dan lebih nyaman berorganisasi.

Di blog post-ku sebelumnya sudah aku ceritakan keikutsertaanku dalam beberapa organisasi kampus. It was addiction, you know. Menjalankan suatu organisasi itu membuatku candu. It was craving, too. Ingat blog post­-ku tentang habit loop? Karena berorganisasi itu sudah jadi kebiasaan, so I’m craving for some reward. What reward? Existence and enjoying my passion. What passion? Disadari atau tidak saat itu, aku suka sekali mengorganisasikan perihal manajemen thingy. POAC (planning, organizing, actuating, controlling), SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) analysis, dan membuat banyak dokumen adalah makanan passion-ku sehari-hari semasa kuliah. Banyak banget yang aku pelajari. And I like it!

Anyway, zaman kuliah dulu aku masih belum menggunakan istilah passion sih.  

--

Empat tahun belajar di organisasi kampus hingga akhirnya merintis pekerjaanku saat lulus kuliah dilakukan begitu saja. Mungkin aku salah satu mahasiswa di jurusanku yang effortlessly saat lulus kuliah untuk mencari pekerjaan. Pekerjaanku aku ambil dari pengalamanku berorganisasi. Disaat teman-teman seangkatan sibuk keluar masuk job fair, wawancara kerja, dan galau mau kerja dimana, dengan Alhamdulillah aku udah santai di tempat kerjaku. Dimana wawancara adalah proses formal yang mesti dilalui, karena aku sudah “membuktikan” komitmenku saat setahun sebelumnya aku konsisten menjadi relawan. Perkumpulan YPBB (dahulu Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) adalah tempat berkaryaku yang pertama. Aku lebih memilih bekerja di organisasi non-profit (organisasi sosial) untuk mengepakkan sayapku. Kenapa aku tidak melamar ke perusahaan besar atau pegawai negeri sipil yang menurut orang banyak (bahkan orang tuaku saat itu) akan membuat kita keren dan duit banyak?

--

It’s all about passion. Aku tipe orang yang gak suka mengikuti sistem yang sudah ada. Aku gak suka jadi boneka perusahaan besar untuk mengikuti sistem mereka yang tidak sesuai denganku hanya untuk uang semata. Kelihatan sih semasa kuliah aku bukan mahasiswa ber-IPK sempurna. Lembaga perkuliahan sudah punya sistem yang baku ‘kan? Sementara itu aku sukanya bereksplorasi terhadap sesuatu yang baru dan membuat sistemku sendiri. Itu terjadi saat aku berorganisasi. Bukan berarti egois, tetapi membuat sesuatu yang menyesuaikan kita yang berada di organisasi saat itu.

Bersambung…

2 comments:

adin dilla said...

Idealis yang keren banget. Nggak mudah buat memegang passion menjadi prinsip. Salut Bro

junerosano said...

Welcome to the world of happiness: do what you love and love what you do. :D